Translate

Jumat, 28 Desember 2012

Monotheisme

Hari ini saya akan membahas tentang Monotheisme sebagai salah satu bentuk kepercayaan...


MONOTEISME
Monoteisme (berasal dari kata Yunani monon yang berarti tunggal dan Theos yang berarti Tuhan) adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu.
Terdapat berbagai bentuk kepercayaan monoteis, termasuk:
       I.            Teisme, istilah yang mengacu kepada keyakinan akan tuhan yang 'pribadi', artinya satu tuhan dengan kepribadian yang khas, dan bukan sekadar suatu kekuatan ilahi saja.
    II.            Deisme adalah bentuk monoteisme yang meyakini bahwa tuhan itu ada. Namun demikian, seorang deis menolak gagasan bahwa tuhan ini ikut campur di dalam dunia. Jadi, deisme menolak wahyu yang khusus. Sifat tuhan ini hanya dapat dikenal melalui nalar dan pengamatan terhadap alam. Karena itu, seorang deis menolak hal-hal yang ajaib dan klaim bahwa suatu agama atau kitab suci memiliki pengenalan akan tuhan.
 III.            Teisme monistik adalah suatu bentuk monoteisme yang ada dalam Hindu. Teisme seperti ini berbeda dengan agama-agama Semit karena ia mencakup panenteisme, monisme, dan pada saat yang sama juga mencakup konsep tentang Tuhan yang pribadi sebagai Yang Tertinggi, Mahakuasa, dan universal. Tipe-tipe monoteisme yang lainnya adalah monisme bersyarat, aliran Ramanuja atau Vishishtadvaita, yang mengakui bahwa alam adalah bagian dari Tuhan, atau Narayana, suatu bentuk panenteisme, namun di dalam Yang Mahatinggi ini ada pluralitas jiwa dan Dvaita, yang berbeda dalam arti bahwa ia bersifat dualistik, karena tuhan itu terpisah dan tidak bersifat panenteistik.
 IV.            Panteisme berpendapat bahwa alam sendiri itulah Tuhan. Pemikiran ini menyangkal kehadiran Yang Mahatinggi yang transenden dan yang bukan merupakan bagian dari alam. Tergantung akan pemahamannya, pandangan ini dapat dibandingkan sepadan dengan ateisme, deisme atau teisme.
    V.            Panenteism adalah suatu bentuk teisme yang berkeyakinan bahwa alam adalah bagian dari tuhan, tapi tuhan tidaklah identik dengan alam. Pandangan ini diikuti oleh teologi proses dan juga Hindu. Menurut Hindu, alam adalah bagian dari Tuhan, tetapi Tuhan tidak sama dengan alam melainkan mentransendensikannya. Akan tetapi, berbeda dengan teologi proses, Tuhan dalam Hinduisme itu Mahakuasa. Panenteisme dipahami sebagai "Tuhan ada di dalam alam sebagaimana jiwa berada di dalam tubuh". Dengan penjelasan yang sama, panenteisme juga disebut teisme monistik di dalam Hinduisme. Namun karena teologi proses juga tercakup di dalam definisi yang luas dari panenteisme dan tidak menerima kehadiran Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa, pandangan Hindu dapat disebut sebagai teisme yang monistik.
 VI.            Monoteisme substansi, ditemukan misalnya dalam sejumlah agama pribumi Afrika, yang berpendapat bahwa tuhan yang banyak itu adalah perwujudan dari substansi yang satu yang ada di belakangnya, dan bahwa substansi yang ada di belakangnya itulah Allah. Pandangan ini banyak miripnya dengan pandangan Tritunggal Kristen tentang tiga pribadi yang mempunyai hakikat yang sama.
Sebagai perbandingan, lihat Politeisme, yang berpendapat bahwa ada banyak tuhan. Dualisme mengajarkan bahwa ada dua kekuatan ilahi atau prinsip-prinsip kekal yang independen, yang satu adalah Kebaikan, dan yang lainnya adalah kuasa jahat, seperti yang diajarkan oleh Zoroastrianisme kuno (Zoroastrianisme modern sepenuhnya bersifat monoteistik). Pandangan ini lebih lengkap diajarkan dalam aliran-aliran yang muncul belakangan dari sistem Gonistik, seperti misalnya Manikeanisme.
Kebanyakan kaum monoteis akan mengatakan bahwa berdasarkan definisinya, monoteisme pasti berlawanan dengan politeisme. Namun demikian, para pemeluk di lingkungan tradisi politeistik seringkali berperilaku seperti kaum monoteis. Ini disebabkan karena keyakinan akan tuhan yang banyak itu tidak berarti bahwa mereka menyembah banyak tuhan. Secara historis, banyak pemeluk politeis percaya akan keberadaan banyak tuhan, tetapi mereka hanya menyembah satu saja, yang dianggap oleh si pemeluk itu sebagai Tuhan yang Mahatinggi. Praktek ini disebut henoteisme.
Ada pula teologi-teologi monoteistik di dalam Hinduisme yang mengajarkan bahwa rupa-rupa Tuhan yang banyak itu, yaitu Wisnu, Syiwa, atau Dewi, semata-mata mewakili aspek-aspek dari kekuatan Ilahi yang ada di belakangnya atau Brahman (lih. artikel tentang Nirguna Brahman dan Saguna Brahman). Sebagian orang mengklaim bahwa Hinduisme tidak pernah mengajarkan politeisme dan klaim seperti itu bisa dianggap benar sebagai salah satu pandangan Hinduisme, yaitu pandangan Smarta yang adalah sebuah pandangan monoteistik yang inklusif dari monoteisme, seperti yang akan dibahas kelak. Pandangan Smarta ini mendominasi pandangan Hinduisme di Barat dan telah membingungkan semua orang Hindu karena mereka dianggap politeistik. Aliran Smarta ini adalah satu-satunya cabang dalam Hinduisme yang sepenuhnya mengikuti pandangan ini. Swami Vivekananda, seorang pengikut Ramakrishna, serta banyak tokoh lainnya yang memperkenalkan agama Hindu ke Barat, semuanya adalah penganut aliran Smarta. Hanya seorang pemeluk Smarta yang tidak mempunyai masalah untuk menyembah Syiwa atau Wisnu bersama-sama karena ia memahaminya sebagai aspek-aspek yang berbeda dari Tuhan yang semuanya membawa kepada Tuhan yang sama. Jadi, menurut teologi Smarta, Tuhan dapat memiliki banyak sekali aspek, dan dengan demikian, begitu keyakinan ini, mereka percaya bahwa Wisnu dan Syiwa sesungguhnya adalah Tuhan yang satu dan sama. Para teolog Smarta telah banyak mengutip referensi untuk mendukung pandangan ini. Misalnya, mereka menafsirkan ayat-ayat dalam Sri Rudram, mantra yang paling suci dalam Syiwaisme, dan Wisnu sahasranama, salah astu doa yang paling suci dalam Wisnuisme, untuk membuktikan keyakinan ini. Sebaliknya, seorang pemeluk Wisnuisme menganggap Wisnu sebagai Tuhan satu-satunya yang sejati, yang layak disembah dan menganggap penyembahan terhadap bentuk-bentuk yang lainnya lebih rendah atau sama sekali keliru.
Monoteisme dapat dibagi menjadi berbagai bentuk berdasarkan sikapnya terhadap politeisme: monoteisme inklusif menganggap bahwa semua tuhan atau dewa dalam politeisme semata-mata hanyalah nama-nama yang lain dari Tuhan monoteistik yang sama; Smartaisme, sebuah denominasi Hindu, mengikuti keyakinan ini dan percaya bahwa Tuhan itu hanya satu namun mempunyai berbagai aspek dan dapat disapa dengan nama yang berbeda-beda. Keyakinan ini mendominasi pandangan Hinduisme di barat. Sebaliknya, monoteisme eksklusif mengklaim bahwa semua tuhan ini adalah salah dan berbeda dari Tuhan yang monoteistik. Mereka itu hanyalah rekaan kuasa jahat, atau semata-mata suatu kekeliruan, sebagaimana yang dipahami oleh Wisnuisme, suatu aliran dalam Hinduisme, terhadap penyembahan apapun selain kepada Wisnu. Monoteisme eksklusif adalah ajaran yang terkenal dalam ajaran agama-agama Abrahamik.
Monoteisme diduga berasal dari ibadah kepada tuhan yang tunggal di dalam suatu panteon dan penghapusan tuhan-tuhan yang lain, seperti dalam kasus penyembahan Aten dalam pemerintahan firaun Mesir Akhenaten, di bawah pengaruh istrinya yang berasal dari Timur, Nefertiti. Ikonoklasme pada masa pemerintahan firaun ini dianggap sebagai asal-usul utama penghancuran berhala-berhala dalam tradisi Abrahamik, yang didasarkan pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan lain di luar tuhan yang mereka akui. Dengan demikian, sebetulnya di sini tergantung pengakuan dualistik dan diam-diam tentang keberadaan tuhan-tuhan yang lain, namun hanya sebagai lawan yang harus dihancurkan karena mereka mengalihkan perhatian dari tuhan utama mereka.
Monoteisme sebagaimana yang diwarisi oleh bangsa Israel dalam pengalaman Exodus di bawah pimpinan Musa, dianggap, oleh mereka yang berpendapat bahwa bangsa Israel ini adalah orang-orang Hiksos, sebagai pewaris kebijakan-kebijakan keagamaan Akhenaten, karena sebelumnya orang-orang Yahudi ini adalah politeis seperti halnya orang-orang Mesir. Masalah-masalah lain seperti Hak ilahi Raja juga muncul dari hukum-hukum firaun tentang penguasa sebagai demigod atau wakil-wakil dari Pencipta di muka bumi. Kuburan-kuburan yang besar di piramida Mesir yang mengikuti observasi astronomis, menggambarkan hubungan antara firaun dengan langit atau sorga dan karena itu kemudian diambil oleh para penguasa Krisen yang mengklaim bahwa mereka diberikan kekuasaan langsung oleh Allah.
Zoroastrianisme dianggap oleh sebagian pakar sebagai bentuk kepercayaan monoteistik yang paling awal yang berevolusi dalam kehidupan manusia, meskipun sebagian turunannya tidak sepenuhnya demikian, karena Tuhan yang utama dalam turunan-turunan seperti Zurvanisme bukanlah pencipta satu-satunya. Ada teori yang menyatakan bahwa Yudaisme dipengaruhi oleh Zoroastrianisme, terutama pada masa pembuangan di Babel, dan setelah itu banyak bagian dari Perjanjian Lama yang ditulis dan disunting. Yudaisme yang lebih awal diasumsikan hanya mengakui bahwa YHVH adalah allah suku mereka (kemungkinan terkait dengan Yaw) yang merupakan dewa pelindung para keturunan Abraham, atau bahwa ada banyak allah tetapi bahwa hanya allah mereka sajalah yang paling kuat. Pandangan ini tidak sesuai dengan pemahaman diri agama-agama Abrahamik - Yudaisme, Kristen, Islam – yang secara tradisional menegaskan bahwa monoteisme eksklusif adalah agama asli dari seluruh umat manusia, sementara allah-allah lainnya dipandang sebagai berhala dan makhluk-makhluk yang keliru disembah sebagai tuhan.
Beberapa profesor arkeologi membuat klaim yang controversial bahwa banyak cerita di dalam Kitab Suci Ibrani, termasuk catatan-catatan penting mengenai Musa, Salomo, dan lain-lainnya, sesungguhnya mula-mula dikembangkan oleh para penulis yang dipekerjakan oleh Raja Yosia (abad ke-7 SM) untuk merasionalisasikan keyakinan monoteistik terhadap YHVH. Teori ini mencatat bahwa negara-negara tetangga, seperti misalnya Mesir, Persia dll., meskipun menyimpan catatan-catatan tertulis, tidak mempunyai tulisan-tulisan mengenai cerita-cerita Alkitab atau tokoh-tokoh utamanya sebelum 650 SM. Klaim-klaim seperti itu diuraikan secara terinci dalam buku Who Were the Early Israelites? oleh William G. Dever, William B. Eerdmans Publishing Co., Grand Rapids, MI (2003). Buku lainnya yang serupa adalah The Bible Unearthed oleh Neil A. Silberman dan rekan-rekannya, Simon dan Schuster, New York (2001).
Meskipun orang Kristen percaya akan satu Allah, mereka mengakui bahwa Allah ini, pada kenyataannya, mempunyai tiga pribadi: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus (bersama-sama disebut Tritunggal), Orang Kristen menekankan bahwa agama mereka bersifat monoteis. Biasanya teologi Kristen mengaku bahwa ketiga pribadi ini tidaklah independen melainkan 'homoousios', artinya bersama-sama mereka mempunyai hakikat atau substansi ilahi yang sama. Namun, sebagian orang mengatakan bahwa agama Kristen adalah suatu bentuk dari Triteisme. Lebih jauh, sebagian sekte minoritas dari agama Kristen, seperti misalnya Saksi Yehuwa, menyangkal gagasan tentang Tritunggal , sementara yang lainnya, seperti sekte Mormonisme, menyembah hanya satu Allah, namun terbuka terhadap keberadaan yang lain-lainnya. Rastafarian, seperti banyak orang Kristen lainnya, percaya bahwa Allah adalah esa dan juga Tritunggal, dalam kasus mereka, Allah adalah Haile Selassie. Kaum Rasta memandang diri mereka sendiri, dan kemungkinan juga semua orang, sebagai unsur Roh Kudus dari Tritunggal, dengan Haile Selassie sebagai penjelmaan dari Allah Bapa dan Allah Anak. Haile Selassie juga dipandang sebagai kepala, dan kaum Rastafarian sebagai tubuh, dari Allah.
Monoteisme dalam Islam
Dalam Al-Qur'an, Surah Al Baqarah 2:115
ولله المشرق والمغرب فاينما تولوا فثم وجه الله ان الله وسع عليم
Terjemahan : Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Dari pernyataan di atas, kita dapat melihat bahwa seperti Yudaisme dan Kekristenan--penafsiran Al Qur'an tentang Allah adalah Tuhan yang kehadiran rohaninya dialami di dalam seluruh jagad raya. Islam menjelaskan monoteisme dalam cara yang sederhana. Terjemahan monoteisme dalam bahasa Arab adalah (Tauhid). Tauhīd berarti satu (berasal dari kata wahid/ahad). Kata ini menyiratkan penyatuan, kesatuan atau mempertahankan sesuatu agar tetap satu. Syahadat (الشهادة), adalah pengakuan atau pernyataan percaya akan keesaan Allah dan bahwa Muhammad adalah nabinya. "Kalimat tauhīd" yang berbunyi: "Lailahailallah" yang berarti bahwa satu-satunya tuhan (ilah) yang pantas untuk diabdi, ditaati, disembah, diikuti ajarannya hanyalah Allah.
Ajaran Tauhid menurut Islam dibawa oleh seluruh Nabi/Rasul tak terkecuali. Tidak semua Nabi dikisahkan dalam Al Quran. Hanya saja setelah Kenabian Muhammad tidak akan ada Nabi lagi. Nabi-nabi sebelum Muhammad diutus untuk umatnya masing-masing, sedangkan Muhammad sebagai penutup para Nabi diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Pengucapan syahadat dalam Islam adalah salah satu dari kelima Rukun Islam yang diakui oleh Muslim . Bila diucapkan dengan suara keras dan dengan bersungguh-sungguh, maka orang yang mengucapkannya dianggap telah menyatakan dirinya sebagai pemeluk agama Islam. Salat di dalam Islam, misalnya, mencakup pernyataan kesaksian tentang monoteisme. Islam menyatakan "Keesaan Allah" sebagai ajaran utama mereka. Lebih jauh, Islam menganggap ajaran Tritunggal yang dipahami Islam sebagaimana yang ada pada agama Kristen sebagai penyimpangan terhadap ajaran (Yesus/Isa) yang ada di dalam ajaran Islam tersebut.
Kebenaran seseorang dalam Islam diukur dari "penyerahan dirinya secara total kepada ajaran Allah". Penyerahan diri yang dimaksud adalah menempatkan diri sebagai pelayan Tuhan maksudnya hidup karena mencari keridhaan Allah dan tidak lagi hidup untuk kepentingannya sendiri, karena hanya dengan demikian pemeluk Islam dianggap kaffah dalam beragama. Mereka yang mengaku diri Islam namun dalam kehidupan mereka tidak melaksanakan ajaran-ajaran yang ada dalam Islam, dapat disebut sebagai orang munafik. Orang munafik adalah orang yang tidak jelas keyakinannya, orang yang di satu sisi mengakui Islam namun di sisi lain ia tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dalam Islam. Orang-orang yang seperti inilah yang disebut dengan orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya.
Dalam pengertian yang universal tauhīd sering juga dilambangkan dengan angka O (nol), yang berarti suatu keadaan di mana seseorang sudah mengikhlaskan diri sepenuhnya kepada Allah, sudah menanggalkan egonya, kepentingannya sehingga dirinya dengan kesadaran hidup meridukan ridha dari Allah , yang ada hanyalah Allah dan dirinya hanyalah perpanjangan tangan Allah. Jika ego telah hilang maka inilah penyatuan dengan Yang Maha Kuasa atau Manunggaling Kawulo Gusti yang sebenarnya hanya ada dalam agama Hindu. Ketika Syeh Siti Jenar mengungkapkan ini di tolak oleh sebagian besar umat Islam. Karena itu simbol nol tidak ada artinya dalam umat Islam. Nol berarti nir kehampaan dan ini padanannya adalah nirwana atau nirguna Tuhan tak tergambarkan, namun kenyataannya Islam menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat, Maha Besar, Maha Kuasa, dll.
Monoteisme dalam agama Bahá'í
Seperti dalam agama Islam, agama Bahá'í memahami monoteisme dalam pengertian yang sederhana. Doa wajib dalam agama Bahá'í, misalnya, mengandung pernyataan kesaksian monoteistik yang jelas. Kedua agama ini menyatakan "Keesaan Allah" (Tauhīd) sebagai ajaran utama mereka. Seperti juga halnya Islam, Bahá'í menganggap ajaran Tritunggal dalam agama Kristen sebagai penyimpangan terhadap ajaran asli Yesus yang ada dalam Bahá'í. Bahá'í memandang ajaran-ajaran non-monoteisme yang muncul sebelumnya sebagai versi kebenaran yang kurang dewasa.
Agama Bahá'í juga menerima keotentikan para pendiri agama yang mengajarkan monoteisme, seperti misalnya Wisnuisme Gaudiya, yang memusatkan ibadahnya kepada Krisna sebagai Tuhan atau bahkan apa yang kadang-kadang dipahami sebagai ajaran-ajaran ateistik seperti misalnya Buddhisme.
Hinduisme
Dalam Hinduisme, ada beberapa pandangan yang terdiri dari monisme, dualisme, panteisme, panenteisme, yang disebut oleh sebagian pakar sebagai teisme monistik, serta monoteisme yang ketat. Namun mereka bukan politeistik, seperti yang dipandang kebanyakan orang luar. Hinduisme seringkali keliru ditafsirkan banyak orang sebagai agama politeistik. Contohnya adalah pemeluk Hindu sendiri, contohnya kaum Smarta, yang mengikuti filsafat Advaita, adalah monis, dan memahami berbagai manifestasi dari Tuhan yang esa atau sumber keberadaan. Kaum monis Hindu memahami satu keesaan, dengan berbagai pribadi Tuhan, sebagai aspek-aspek yang berbeda dari Yang Maha Tinggi dan Esa, seperti halnya satu pancaran cahaya yang dipisah-pisahkan menjadi berbagai macam warna oleh sebuah prisma, dan semuanya sah untuk disembah. Sebagian dari aspek-aspek Tuhan di dalam agama Hindu mencakup Dewi, Wisnu, Ganesya, dan Syiwa. Pandangan Smarta inilah yang mendominasi pandangan tentang Hinduisme di Barat. hal ini disebabkan karena Swami Vivekananda, seorang pengikut Ramakrishna, di antara banyak orang lainnya, yang memperkenalkan keyakinan Hindu ke dunia Barat, semuanya adalah penganut Smarta. Aliran-aliran Hinduisme lainnya, seperti yang digambarkan kelak, tidak menganut keyakinan ini secara ketat dan lebih erat berpegang pada persepsi Barat tentang arti keyakinan yang monoteistik. Selain itu, seperti agama-agama Yudeo-Kristen yang percaya akan malaikat, orang Hindu juga percaya akan keberadaan yang tidak begitu kuat, seperti halnya para dewa.
Hinduisme kontemporer saat ini dibagi menjadi empat pembagian utama yaitu, Wisnuisme, Syiwaisme, Saktiisme, dan Smartaisme. Seperti halnya Yahudi, Kristen, dan Muslim yang mempercayai satu Tuhan namun berbeda dalam konsep Ketuhanan, semua pengikut agama Hindu percaya pada satu Tuhan namun berbeda dalam konsepnya. Dua bentuk utama dari perbedaan ini adalah antara dua kepercayaan monoteistik dari Wisnuisme yang menganggap Tuhan adalah Wisnu dan Syiwaisme, yang memahami Tuhan sebagai Syiwa. Aspek-aspek Tuhan yang lainnya pada kenyataannya adalah aspek-aspek dari Wisnu atau Syiwa; lihat Smartaisme untuk informasi lebih lanjut.
Hanya seorang pemeluk Smartaisme tidak akan mengalami masalah untuk menyembah Syiwa atau Wisnu bersama-sama karena ia memandang berbagai aspek dari Tuhan menuntun kepada satu Tuhan yang sama. Pandangan Smartalah yang mendominasi pandangan Hinduisme di Barat. Sebaliknya, seorang pemeluk Wisnuisme menganggap Wisnu sebagau Tuhan satu-satunya yang sejati, yang layak disembah, sementara bentuk-bentuk lainnya adalah penampakan yang lebih rendah. Lihat misalnya, ilustrasi tentang pandangan pemeluk Wisnuisme tentang Wisnu sebagai Tuhan sejati yang esa di sini.
Dengan demikian, banyak pemeluk Wisnuisme, misalnya, percaya bahwa hanya Wisnu lah yang dapat menganugerahkan tujuan terakhir manusia, moksa. Lihat misalnya, di sini. Demikian pula, banyak pemeluk Syiwaisme juga menganut keyakinan yang sama, seperti yang diilustrasikan pada di sini dan di sini.
Namun, bahkan pemeluk Wisnuisme, seperti orang-orang Hindu lainnya, mempunyai toleransi terhadap keyakinan-keyakinan yang lain karena Dewa Krisna, avatar Wisnu, mengatakannya demikian di dalam Gita. Beberapa pandangan melukiskan pandangan toleran ini:
Krisna berkata: "Dewa atau bentuk apapun yang disembah seorang percaya, aku akan menguatkan imannya. Namun demikian, hanya Akulah yang mengaruniakan keinginan mereka." (Gita: 7:21-22)
Kutipan lain di dalam Gita mengatakan:
"O Arjuna, bahkan pemeluk-pemeluk yang menyembah tuhan-tuhan lain yang lebih rendah, (mis. dewa-dewa) dengan iman, mereka pun menyembah Aku, tetapi dalam cara yang tidak tepat, karena Akulah yang Maha Tinggi. Hanya akulah yang menikmati semua ibadah kurban (Seva, Yajna) dan Tuhan sarwa sekalian alam." (Gita: 9:23)
Bahkan sebuah ayat Weda melukiskan tema toleransi ini. Kitab-kitab Weda dihormati di dalam Hinduisme, apapun juga alirannya. Misalnya, sebuah nyanyian Rig Weda yang terkenal menyatakan bahwa: "Kebenaran hanya Satu, meskipun para bijak mengenalnya dalam berbagai bentuk." Hal ini berlawanan dengan keyakinan-keyakinan di dalam tradisi-tradisi agama lain, yang mewajibkan pemeluknya mempercayai Allah hanya dalam satu aspek dan menolak sama sekali atau meremehkan keyakinan-keyakinan lainnya.
Monoteisme dalam Taoisme
Tao adalah Yang Tertinggi yang tidak dapat didefinisikan dengan bahasa manusia, sifatnya adalah ketiadaan (nothingness) dan mengandung tuhan-tuhan yang lainnya. Berbeda dengan monoteisme Timur Tengah, Tao tidak mempunyai sifat-sifat pribadi seperti kesucian, cinta kasih, dan kebenaran. Hal ini membuat Taoisme terbebas dari masalah-masalah teodisi.

Kamis, 27 Desember 2012

Karaniya Metta Sutta



KARAṆĪYA METTA SUTTA
(Sutta tentang cinta kasih)

Karaṇīyamatthakusalena
Yantaṁ santaṁ padaṁ abhisamecca :
Sakko ujū ca suhujū ca
Suvaco cassa mudu anatimānī 

Santussako ca subharo ca
Appakicco ca sallahukavutti
Santindriyo ca nipako ca
Appagabbho kulesu ananugiddho.

Na ca khuddaṁ samācare kiñci
Yena viññū pare upavadeyyuṁ
Sukhino vā khemino hontu
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā

Ye keci pāṇabhutatthi
Tasā vā thāvarā vā anavasesā
Dīghā vā ye mahantā vā
Majjhimā rassakā aṇukathūlā 

Diṭṭhā vā ye va addiṭṭhā
Ye ca dūre vasanti avidūre
Bhūtā vā samhavesī vā
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Na paro paraṁ nikubbetha
Nātimaññetha katthaci naṁ kañci
Byārosanā paṭīghasaññā
Nāññamaññassa dukkhamiccheyya .

Mātā yathā niyaṁ puttaṁ
Āyusā ekaputtamanurakkhe.
Evampi sabbabhūtesu
Mānasambhāvaye aparimānaṁ.

Mettañca sabbalokasmiṁ
Mānasambhāvaye aparimāṇaṁ
Uddhaṁ adho ca tiriyañca
Asambādhaṁ averaṁ asapattaṁ. 


Tiṭṭhañ caraṁ nisinno vā
Sayāno vā yāvatassa vigatamiddho
Etaṁ satiṁ adhiṭṭheyya
Brahmametaṁ vihāraṁ idhamāhu

Diṭṭhinca anupagamma
Silavā dassanena sampanno
Kāmesu vineyya gedhaṁ
Nahi jātu gabbhaseyyaṁ punaretī ti. 



Inilah yang patut dikerjakan
oleh mereka yang tangkas dalam hal yang berguna,
yang menghantar ke jalan kedamaian:
sebagai orang yang cakap, jujur,1 tulus,2
mudah dinasihati, lemah lembut, tidak sombong.

Merasa puas atas yang dimiliki,3mudah dirawat,
tidak repot, bersahaja hidupnya,
berindria tenang, penuh pertimbangan,
sopan, tak melekat pada keluarga-keluarga;

tidak berbuat kesalahan walaupun kecil,
yang dapat dicela oleh para bijaksana,
senantiasa bersiaga dengan ujaran cinta kasih:
‘Semoga semua makhluk berbahagia dan tenteram.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.’

Makhluk hidup apapun  yang ada;
yang goyah4dan yang kokoh5 tanpa kecuali,
yang panjang atau yang besar,
yang sedang, pendek, kecil, kurus atau pun gemuk;

Yang tampak atau pun yang tak tampak
yang berada jauh atau pun dekat,
yang telah menjadi atau pun yang belum menjadi,
semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Tak sepatutnya yang satu menipu yang lainnya,
tidak menghina siapa pun dimana juga,
dan, tak selayaknya karena marah dan benci
mengharap yang lain celaka.

Sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwa
melindungi putra tunggalnya;
demikianlah terhadap semua makhluk,
kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas.

Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam,
patut dikembangkan tanpa batas dalam batin
baik ke arah atas, bawah, dan diantaranya6;
tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan.

Selagi berdiri, berjalan atau duduk,
ataupun berbaring, sebelum terlelap;
sepatutnya ia memusatkan perhatian ini
yang disebut sebagai ‘berdiam dalam Brahma’7

Ia yang mengembangkan metta, tak berpandangan salah8
teguh dalam sila dan berpengetahuan sempurna,
dan melenyapkan kesenangan nafsu indria9;
tak akan lahir dalam rahim lagi10.

Catatan :
1 Perbuatan lurus melalui ucapan ataupun jasmani.
2 Perbuatan lurus melalui pikiran (tidak munafik).
3 Santuṭṭhī = gembira atas harta sendiri yang dimiliki (sentosa).
4 Yang gampang tergoyah oleh keinginan dan ketakutan.
5 Yang terkendali keinginan dan ketakutannya.
6 Arah atas – alam arupa, arah bawah = alam nafsu, arah di antaranya = alam rupa.
7 ’Berdiam dalam keluhuran’.
8 Tak berpandangan salah terhadap nama-rupa (sakkayaditthi).
9 Pencapaian sakadagami.
10 Pencapaian anagami.


Rabu, 26 Desember 2012

Konsili Nikea tahun 325

Konsili Nicaea 1
Tahun 325

PENDAHULUAN

Dewan ini dibuka pada tanggal 19 Juni di hadapan kaisar, tetapi tidak pasti yang memimpin sesi. Dalam daftar yang masih ada para uskup yang hadir, Ossius dari Cordova, dan Vitus imam dan Vincentius terdaftar sebelum nama lain, tetapi lebih mungkin bahwa Eustathius dari Antiokhia atau Alexander dari Alexandria dipimpin.
Teks tebal dalam pengakuan iman dari 318 ayah merupakan, menurut Tanner "Penambahan dibuat oleh dewan ke bentuk yang mendasari keyakinan", dan bahwa keyakinan yang mendasari kemungkinan besar "berasal dari formula baptisan dari Kaisarea menempatkan diajukan oleh uskup itu Eusebius kota "atau bahwa" dikembangkan dari bentuk asli yang ada di Yerusalem atau di setiap tingkat Palestina ". "Sebuah keturunan langsung dari akidah Eusebius dari Kaisarea secara nyata keluar dari pertanyaan." Vol 1, p2)
Angka 318 diberikan dalam judul di bawah ini adalah dari Hilary dari Poitier dan merupakan yang tradisional. Nomor lainnya adalah Eusebius 250, Eustathius dari Antiokhia 270, Athanasius. Sekitar 300, Gelasius dari Cyzicus di lebih dari 300.
THE PROFESI IMAN DARI 318 AYAH

  1. Kami percaya pada satu Tuhan Bapa semua pembuat, kuat dari semua hal baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, satu-satunya tunggal-tunggal dari Bapa, yaitu dari substansi [Gr. ousias, Lat. substantia] dari Bapa, Allah dari Allah, cahaya dari cahaya, Allah benar dari Allah benar, diperanakkan [Gr. gennethenta, Lat. natum] tidak dibuat [Gr. poethenta, Lat. factum], sehakikat [Gr. homoousion, Lat. unius substantiae (quod Graeci dicunt homousion)] dengan Bapa, melalui siapa segala sesuatu datang untuk menjadi, baik yang di surga dan orang-orang di bumi, karena kita manusia dan untuk keselamatan kita ia turun dan berinkarnasi, menjadi manusia, menderita dan bangkit sampai pada hari ketiga, naik ke langit, akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Dan dalam Roh Kudus.
  2. Dan orang-orang yang mengatakan
    1. "Sana sekali adalah ketika ia tidak", dan "sebelum ia diperanakkan ia tidak", dan bahwa
    2. ia datang berasal dari
      • hal-hal yang tidak, atau
      • dari hypostasis yang lain [Gr. hypostaseos] atau substansi [Gr. ousias, Lat. substantia],
      menegaskan bahwa Anak Allah tunduk pada perubahan atau perubahan tersebut dengan anathematises gereja katolik dan apostolik.

    Kanon

    1. Jika seseorang dalam keadaan sakit telah menjalani operasi di tangan dokter atau telah dikebiri oleh barbar, biarkan dia tetap di antara para pendeta. Tapi kalau ada dalam kesehatan yang baik telah mengebiri dirinya sendiri, jika ia terdaftar di antara para rohaniwan yang harus ditunda, dan di masa depan ada orang tersebut harus dipromosikan. Tapi, karena jelas bahwa ini adalah mereka yang bertanggung jawab atas kondisi dan berani mengebiri diri mereka sendiri, demikian juga jika ada telah dibuat oleh kasim barbar atau oleh tuannya, tetapi telah ditemukan layak, kanon mengakui orang-orang tersebut untuk ulama.
    2. Karena, baik melalui keharusan atau melalui tuntutan importunate dari individu-individu tertentu, ada pelanggaran banyak kanon gereja, dengan hasil bahwa laki-laki yang baru datang dari kehidupan kafir kepada iman setelah katekumenat singkat telah diterima sekaligus untuk pembasuhan rohani, dan pada saat yang sama seperti baptisan mereka telah dipromosikan ke keuskupan atau presbiterat tersebut, disepakati bahwa itu akan baik untuk hal semacam itu terjadi di masa depan. Untuk katekumen membutuhkan waktu dan masa percobaan lebih lanjut setelah pembaptisan, kata-kata rasul jelas: "Tidak seorang mualaf baru-baru ini, atau dia bisa sombong dan jatuh ke dalam penghukuman dan jerat Iblis". Tapi kalau dengan berlalunya waktu beberapa dosa sensualitas yang ditemukan berkaitan dengan orang tersebut dan dia dihukum oleh dua atau tiga orang saksi, seperti satu akan ditangguhkan dari para ulama. Jika ada yang bertentangan peraturan ini, ia akan bertanggung jawab untuk kehilangan statusnya ulamanya untuk bertindak bertentangan dengan ini sinode besar.
    3. Ini sinode besar benar-benar melarang seorang uskup, penatua, diakon atau salah satu ulama untuk menjaga seorang wanita yang telah dibawa untuk tinggal bersamanya, dengan pengecualian tentu saja ibunya atau saudara perempuan atau bibi, atau setiap orang yang berada di atas kecurigaan.
    4. Ini adalah dengan segala cara yang diinginkan bahwa seorang uskup harus ditunjuk oleh semua uskup dari provinsi. Tetapi jika hal ini sulit karena beberapa kebutuhan mendesak atau panjang perjalanan yang terlibat, biarkan setidaknya tiga orang berkumpul dan melakukan pentahbisan itu, tetapi hanya setelah uskup hadir telah mengambil bagian dalam pemungutan suara dan memberikan persetujuan tertulis. Tapi di setiap provinsi hak mengkonfirmasikan proses milik uskup metropolitan.
    5. Mengenai orang-orang, baik dari ulama atau kaum awam, yang telah dikucilkan, kalimat itu harus dihormati oleh para uskup dari setiap provinsi sesuai dengan kanon yang melarang mereka diusir oleh beberapa orang untuk diakui oleh orang lain. Tapi mari penyelidikan diselenggarakan untuk memastikan apakah seseorang telah diusir dari komunitas karena kepicikan atau quarrelsomeness atau sifat buruk seperti pada bagian dari uskup. Oleh karena itu, dalam rangka bahwa mungkin ada peluang yang tepat untuk penyelidikan masalah, disepakati bahwa itu akan baik bagi sinode yang akan diadakan setiap tahun di setiap provinsi dua kali setahun, sehingga pertanyaan ini dapat dilakukan oleh semua uskup provinsi berkumpul bersama-sama, dan dengan cara ini dengan persetujuan umum mereka yang telah tersinggung terhadap uskup mereka sendiri dapat diakui oleh semua untuk menjadi cukup dikucilkan, sampai semua uskup yang sama dapat memutuskan untuk mengucapkan kalimat yang lebih lunak pada orang-orang ini. Sinode tidak dapat dimintai pada waktu berikut: satu sebelum Masa Prapaskah, sehingga, kepicikan semua yang disisihkan, hadiah yang ditawarkan kepada Allah mungkin bercacat, yang kedua setelah musim gugur.
    6. Kebiasaan kuno Mesir, Libya dan Pentapolis harus dipelihara, yang menurutnya uskup Alexandria memiliki otoritas atas semua tempat-tempat ini karena kebiasaan yang sama ada dengan mengacu kepada uskup Roma. Demikian pula di Antiokhia dan provinsi lain hak istimewa dari gereja-gereja yang harus dipertahankan. Secara umum prinsip berikut adalah jelas: jika ada yang menjadi uskup tanpa persetujuan dari metropolitan, ini sinode besar menentukan bahwa seperti satu tidak akan uskup. Jika namun dua atau tiga dengan alasan perbedaan pendapat persaingan pribadi dari suara umum dari semua, asalkan itu adalah wajar dan sesuai dengan kanon gereja, suara mayoritas yang berlaku.
    7. Karena ada berlaku tradisi adat dan kuno yang menyatakan bahwa uskup dari Aelia adalah untuk dihormati, biarkan dia diberikan segala konsekuen pada kehormatan ini, menyimpan martabat yang tepat untuk metropolitan.
    8. Mengenai orang-orang yang telah memberikan diri mereka nama Kathar, dan yang dari waktu ke waktu datang secara terbuka ke gereja katolik dan apostolik, ini sinode suci dan besar keputusan bahwa mereka mungkin tetap di antara para rohaniwan setelah menerima penumpangan tangan. Tapi sebelum semua ini sudah sepatutnya bahwa mereka memberikan perjanjian tertulis bahwa mereka akan menerima dan mengikuti ketetapan-ketetapan Gereja Katolik, yaitu bahwa mereka akan berada dalam persekutuan dengan mereka yang telah memasuki pernikahan kedua dan dengan mereka yang telah murtad dalam waktu penganiayaan dan untuk siapa periode [penebusan dosa] telah diperbaiki dan kesempatan [untuk rekonsiliasi] diberikan, sehingga dalam segala hal mengikuti keputusan dari Gereja Katolik dan apostolik. Oleh karena itu, di mana semua ditahbiskan di desa-desa atau kota telah ditemukan untuk menjadi laki-laki semacam ini saja, mereka yang jadi menemukan akan tetap berada di ulama di peringkat yang sama, tetapi ketika beberapa datang di tempat-tempat di mana ada uskup atau penatua milik Gereja Katolik, jelas bahwa uskup gereja akan mengadakan martabat uskup, dan bahwa satu diberi judul dan nama uskup di antara yang disebut Cathar akan memiliki pangkat presbiter, kecuali uskup berpikir fit untuk membiarkan dia berbagi dalam kehormatan judul. Tetapi jika hal ini tidak bertemu dengan persetujuannya, uskup akan menyediakan baginya tempat sebagai chorepiscopus atau presbiter, sehingga membuat status biasa ulamanya jelas dan mencegah sana menjadi dua uskup di kota.
    9. Jika ada telah dipromosikan imam tanpa pemeriksaan, dan kemudian setelah penyelidikan telah mengaku dosa-dosa mereka, dan jika setelah pria pengakuan mereka telah dikenakan tangan orang-orang itu, yang pindah untuk bertindak terhadap kanon, kanon tidak mengakui orang-orang ini, untuk katolik Gereja membenarkan hanya yang di atas celaan.
    10. Jika ada telah dipromosikan ke penahbisan melalui ketidaktahuan promotor mereka atau bahkan dengan keterlibatan mereka, fakta ini tidak merugikan kanon gereja, karena sekali ditemukan mereka harus digulingkan.
    11. Mengenai orang-orang yang telah melanggar tanpa keharusan atau penyitaan properti mereka atau tanpa bahaya atau apapun dari alam, seperti yang terjadi di bawah tirani Licinius, ini sinode suci keputusan bahwa, meskipun mereka tidak layak keringanan hukuman, namun mereka harus diperlakukan untungnya. Mereka karena itu di antara umat beriman yang benar-benar bertobat akan menghabiskan tiga tahun di antara pendengar, selama tujuh tahun mereka akan menjadi prostrators, dan selama dua tahun mereka akan ambil bagian dengan orang-orang dalam doa, meskipun tidak dalam menawarkan.
    12. Mereka yang telah dipanggil oleh kasih karunia, telah memberikan bukti semangat pertama dan telah membuang [militer] mereka ikat pinggang, dan setelah itu telah berjalan kembali seperti anjing ke muntahnya sendiri, sehingga beberapa bahkan membayar uang dan pulih status militer mereka dengan suap - orang-orang tersebut akan menghabiskan sepuluh tahun sebagai prostrators setelah jangka waktu tiga tahun sebagai pendengar. Dalam setiap kasus, bagaimanapun, disposisi mereka dan sifat pertobatan mereka harus diperiksa. Bagi mereka yang karena takut dan air mata dan pekerjaan ketekunan dan baik memberikan bukti pertobatan mereka dengan perbuatan dan bukan oleh pertunjukan luar, ketika mereka telah menyelesaikan waktu yang ditentukan mereka sebagai pendengar, benar dapat mengambil bagian dalam doa, dan uskup yang kompeten untuk memutuskan lebih menguntungkan dalam hal mereka. Tetapi mereka yang telah mengambil masalah ringan, dan telah memikirkan bahwa bentuk lahiriah memasuki gereja adalah semua yang diperlukan untuk konversi mereka, harus melengkapi istilah mereka dengan penuh.
    13. Mengenai berangkat, hukum kanon kuno masih dipertahankan yaitu bahwa mereka yang berangkat tidak akan kekurangan lalu viaticum mereka, yang paling diperlukan. Tetapi jika seseorang yang kehidupannya telah putus asa telah mengaku persekutuan dan telah berbagi dalam menawarkan dan ditemukan untuk nomor lagi di antara yang hidup, ia akan berada di antara mereka yang mengambil bagian dalam doa hanya [di sini varian bacaan di Les kanon des conciles oecumeniques menambahkan "sampai istilah ini ditetapkan oleh sinode ekumenis besar telah selesai"]. Tetapi sebagai aturan umum, dalam kasus apapun orang yang berangkat dan berusaha untuk berbagi dalam ekaristi, uskup setelah memeriksa masalah tersebut akan memberinya bagian dalam persembahan.
    14. Mengenai katekumen yang telah murtad, ini sinode suci dan besar keputusan itu, setelah mereka telah menghabiskan tiga tahun sebagai pendengar saja, mereka kemudian akan diizinkan untuk berdoa bersama para katekumen.
    15. Pada rekening gangguan besar dan faksi-faksi yang disebabkan, itu menyatakan bahwa kebiasaan, jika ditemukan ada di beberapa bagian bertentangan dengan kanon, harus benar-benar ditekan, sehingga tidak uskup atau imam atau diakon akan transfer dari kota ke kota. Jika setelah keputusan ini siapapun sinode suci dan besar akan mencoba hal seperti itu, atau akan meminjamkan dirinya untuk melanjutkan seperti yang, pengaturan tersebut harus benar-benar dibatalkan, dan dia akan dikembalikan ke gereja di mana ia ditahbiskan uskup atau penatua atau diakon.
    16. Setiap penatua atau diaken atau orang umum terdaftar dalam peringkat ulama yang berangkat dari gereja mereka secara serampangan dan tanpa rasa takut akan Allah di depan mata mereka atau dalam ketidaktahuan dari kanon gereja, tidak harus dengan cara apapun yang akan diterima di gereja lain, namun tekanan semua harus diterapkan kepada mereka untuk membujuk mereka untuk kembali ke keuskupan mereka sendiri, atau jika mereka tetap itu adalah benar bahwa mereka harus dikucilkan. Tapi kalau berani siapa pun untuk mencuri orang yang menjadi milik orang lain dan untuk menahbiskan dia di gerejanya tanpa persetujuan dari uskup sendiri antara lain yang pendeta dia terdaftar sebelum ia berangkat, penahbisan adalah untuk menjadi nol.
    17. Karena banyak terdaftar [di antara para pendeta] telah diinduksi oleh keserakahan dan ketamakan untuk melupakan teks suci, "yang tidak mengeluarkan uang dengan bunga", dan untuk biaya satu persen [sebulan] pada pinjaman, ini suci dan besar sinode hakim bahwa jika ada yang ditemukan setelah keputusan untuk menerima bunga dengan kontrak atau untuk bertransaksi bisnis dengan cara lain atau untuk mengisi [flat rate] lima puluh persen atau secara umum untuk merancang setiap penemuan lain demi keuntungan tercela , mereka akan dipecat dari para ulama dan nama mereka dicoret dari gulungan.
    18. Ini telah menjadi perhatian dari sinode suci dan besar yang di beberapa tempat dan diaken kota memberikan komuni kepada penatua, meskipun tidak kanon atau kustom memungkinkan hal ini, yaitu bahwa mereka yang tidak memiliki kewenangan untuk menawarkan harus memberikan tubuh Kristus kepada mereka yang melakukan tawaran. Selain itu telah menjadi diketahui bahwa beberapa diakon kini menerima ekaristi bahkan sebelum para uskup. Semua praktik ini harus ditekan. Diakon harus tetap dalam batas-batas mereka sendiri, mengetahui bahwa mereka adalah para menteri dari uskup dan bawahan kepada imam. Biarkan mereka menerima ekaristi sesuai dengan pesanan mereka setelah penatua dari tangan uskup atau imam tersebut. Juga harus izin diberikan untuk diaken untuk duduk di antara penatua, untuk pengaturan tersebut adalah bertentangan dengan kanon dan untuk peringkat. Jika ada yang menolak untuk mematuhi bahkan setelah keputusan tersebut, ia harus diskors dari diakonat.
    19. Mengenai Paulinists mantan yang mencari perlindungan di gereja katolik, itu ditentukan bahwa mereka harus rebaptised tanpa syarat. Mereka yang di masa lalu telah terdaftar di antara para rohaniwan, jika mereka muncul untuk menjadi bersih dan tak ternoda, harus rebaptised dan ditahbiskan oleh uskup dari Gereja Katolik. Tetapi jika pada penyelidikan mereka terbukti tidak sesuai, hal itu benar bahwa mereka harus disingkirkan. Demikian pula berkaitan dengan diaken dan semua pada umumnya yang namanya telah dimasukkan dalam gulungan, bentuk yang sama harus diamati. Kami merujuk kepada diaken yang telah diberikan status ini, karena mereka tidak menerima penumpangan tangan, sehingga mereka dalam segala hal yang akan terhitung di antara kaum awam.
    20. Karena ada beberapa orang yang berlutut pada hari Minggu dan selama musim Pentakosta, ini sinode suci keputusan itu, sehingga perayaan yang sama dapat dipertahankan di setiap keuskupan, seseorang harus menawarkan doa seseorang kepada Tuhan berdiri.
    SURAT Sinode di Nicaea ke Mesir
    Para uskup berkumpul di Nicaea, yang merupakan sinode besar dan suci, menyambut jemaat Aleksandria, oleh kasih karunia Allah yang suci dan besar, dan saudara-saudara terkasih di Mesir, Libya dan Pentapolis.
    Karena kasih karunia Allah dan kaisar paling saleh Konstantin telah memanggil kami bersama-sama dari berbagai provinsi dan kota untuk membentuk sinode besar dan suci di Nicaea, tampaknya benar-benar diperlukan bahwa sinode suci harus mengirimkan surat sehingga Anda mungkin tahu apa yang diusulkan dan dibahas, dan apa yang telah diputuskan dan disahkan.
  3. Pertama dari semua urusan ketiadaan rasa hormat dan pelanggaran hukum Arius dan para pengikutnya telah dibahas di hadapan Kaisar Konstantin yang paling saleh. Itu sepakat bahwa anatema harus diucapkan melawan opini fasik dan istilah menghujat dan ekspresi yang dia penghujatan diterapkan pada Anak Allah,
    • pepatah
      • "Dia dari hal-hal yang tidak", dan
      • "Sebelum ia diperanakkan ia tidak", dan
      • "Sana sekali adalah ketika dia tidak",
    • mengatakan juga bahwa
      • dengan kekuatan sendiri Anak Allah mampu
        • jahat dan
        • kebaikan,
    • dan memanggilnya
      • makhluk dan karya.
    Terhadap semua ini anatema sinode suci diucapkan, dan tidak membiarkan pendapat ini fasik dan ditinggalkan dan kata-kata menghujat bahkan untuk didengar.
    Dari bahwa manusia dan nasib yang menimpa dirinya, Anda pasti telah mendengar atau akan mendengar, supaya kita harus tampak menginjak-injak orang yang telah menerima hadiah pas karena dosanya sendiri. Seperti memang adalah kekuatan ketiadaan rasa hormat bahwa Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais dibagi dalam konsekuensi, karena mereka juga mengalami nasib yang sama.
    Tapi karena, ketika kasih karunia Allah telah membebaskan Mesir dari pendapat ini jahat dan menghujat, dan dari orang-orang yang berani untuk menimbulkan perpecahan dan pemisahan dalam orang yang sampai sekarang telah hidup dalam damai, masih ada pertanyaan dari praduga Meletius dan orang-orang yang ia ditahbiskan, kami akan menjelaskan kepada Anda, saudara-saudara terkasih, keputusan sinode mengenai hal ini juga. Sinode itu pindah ke miring ke arah kelembutan dalam memperlakukan Meletius untuk tegasnya dia layak belas kasihan. Ini menetapkan bahwa dia mungkin masih berada di kotanya sendiri tanpa kewenangan untuk mengusulkan atau menahbiskan, dan bahwa dia tidak menunjukkan dirinya untuk tujuan ini di negara atau di kota lain, dan bahwa ia adalah untuk mempertahankan nama telanjang kantornya .
    Lebih lanjut menyatakan bahwa orang-orang yang ia ditahbiskan, ketika mereka telah divalidasi oleh ordinasi lebih spiritual, itu harus dirawat persekutuan dengan syarat bahwa mereka akan mempertahankan peringkat mereka dan melaksanakan pelayanan mereka, namun dalam segala hal itu harus kedua semua ulama di setiap keuskupan dan gereja yang telah dinominasikan di bawah saudara kita yang paling dihormati dan sesama menteri Alexander, mereka tidak memiliki kewenangan untuk menunjuk calon pilihan mereka atau untuk menempatkan nama depan atau melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari uskup gereja Katolik, yaitu uskup dari mereka yang berada di bawah Alexander. Tetapi mereka yang oleh kasih karunia Allah dan oleh doa-doa kita belum terdeteksi dalam skisma apapun, dan bersih di gereja katolik dan apostolik, yang memiliki kewenangan untuk mengangkat dan mengedepankan nama-nama orang ulama yang layak , dan secara umum untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan hukum dan aturan gereja.
    Dalam hal kematian salah dalam gereja, orang-orang yang baru saja diterima adalah kemudian berhasil ke kantor almarhum, asalkan mereka muncul layak dan dipilih oleh rakyat, uskup dari Alexandria adalah untuk mengambil bagian dalam suara dan mengkonfirmasi pemilihan. Ini istimewa, yang telah diberikan kepada semua orang lain, tidak berlaku untuk orang dari Meletius karena seditiousness lazim dan disposisi nya lincah dan ruam, jangan ada wewenang atau tanggung jawab harus diberikan kepada orang yang mampu kembali ke praktik durhaka nya .
    Ini adalah keputusan kepala dan yang paling penting sejauh kekhawatiran Mesir dan gereja yang paling suci Aleksandria. Apapun kanon lain dan keputusan yang diberlakukan di hadapan junjungan kita dan paling dihormati menteri rekan dan saudara Alexander, dia akan melaporkan dirinya kepada Anda secara lebih rinci ketika ia datang, karena dia sendiri seorang pemimpin serta sebagai peserta dalam peristiwa .
    Berikut ini tidak ditemukan dalam teks latin, tetapi ditemukan dalam teks Yunani:
    Kami juga mengirimkan kabar baik dari penyelesaian mengenai Paskah suci, yaitu untuk menjawab doa-doa Anda pertanyaan ini juga telah diselesaikan. Semua saudara-saudara di Timur yang telah sampai sekarang mengikuti praktek Yahudi selanjutnya akan mengamati kebiasaan Romawi dan dirimu dan kita semua yang dari zaman kuno telah disimpan Paskah bersama-sama dengan Anda. Bersukacita kemudian dalam keberhasilan dan dalam damai dan harmoni umum dan dalam memotong semua bid'ah, menyambut menteri sesama, Anda uskup Alexander, dengan semua kehormatan besar dan cinta. Dia telah membuat kami senang dengan kehadirannya, dan meskipun usianya telah melakukan kerja yang begitu besar agar Anda juga dapat menikmati kedamaian.
    Berdoalah bagi kita semua bahwa keputusan kita mungkin tetap aman melalui Mahakuasa Allah dan junjungan kita Yesus Kristus dalam Roh Kudus, kepada siapa adalah kemuliaan selama-lamanya. Amin.

TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Sekarang kita bahas tentang apa arti Trinitas dalam ajaran gereja Katolik. Saya ambil dari www.imankatolik.or.id

MEMAHAMI ALLAH TRITUNGGAL
Allah Tritunggal atau Trinitas merupakan doktrin yang sukar dan membingungkan kita. Kadang-kdang orang Kristen dituduh mengajarkan pemikiran yang tidak masuk akal (logika), yaitu 1+1+1=1. ini merupakan pernyataan yang salah. Mengapa tidak memakai formula 1x1x1=1 atau 1:1:1=1? Istilah Trinitas bukan menjelaskan relasi dari Tiga Allah (ini yang sering dikatakan oleh sekte Unitarian kepada Orang Kristen). Tritunggal bukan berarti triteisme, yaitu di mana ada tiga keberadaan yang tiga-tiganya adalah Allah. Kata Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya.
Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam sejarah adalah Allah itu satu esensi dan tiga Pribadi. Formula ini memang merupakan suatu hal yang misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam Tiga Pribadi. Istilah Trinitas sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, namun konsepnya dengan jelas diajarkan oleh Alkitab. Di satu sisi, Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ulangan 6:4) dan (ihat juga 1Kor 8:4,6; 1Tim 2:5-6, Yak2:19) Di sisi lain, Alkitab dengan tegas menyatakan keilahian tiga pribadi dari Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Gereja telah menolak ajaran-ajaran bidat modalisme dan triteisme. Modalisme adalah ajaran yang menyangkali perbedaan Pribadi-Pribadi yang ada di dalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengkspresikan diri-Nya. Di pihak lain, Triteisme mengungkapkan pernyataan yang salah, yaitu ada tiga keberadaan yang menjadi Allah.
Istilah Pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam subtansi dari Allah. Substansi-substansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain.setiap Pribadi berada ”di bawah” esensi Allah yang murni. Perbedaan substansi ini berada dalam wilayah keberadaan, bukan suatu merupakan suatu keberadaan atau esensi yang terpisah. Semua pribadi pada diri Allah memiliki atribut ilahi.
Setiap Pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun, di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.
Keilahian Bapa:
  • Mat 6:26 bdk Mat 30,32, Yoh.1:18, 6:46, Ro 1:7

Keilahian Yesus Kristus:
  • Pengakuan Tomas: Yoh 20:28.
  • Kesaksian Paulus: Flp 2:5-11.
  • Ibr 1:2,8.
  • malaikat Allah adalah malaikat-Nya: Luk.12:8-9; 15:10, Mat13:41.
  • kerajaan Allah dan orang-orang pilihan Allah adalah milik-Nya: Mat 12:28, 19:14, 24, 21:31,43, Mrk13:20.
  • mengampuni dosa: Mrk 2:8-10.
  • wewenang untuk menghakimi dunia: Mat.25:31.
  • berkuasa atas dunia: Mat 24:30, Mrk 14:62.

Keilahian Roh Kudus:
  • berdusta kepada Roh Kudus = berdusta kepada Allah ( bdk. 1 Kor.6:19-20).
  • Roh Kudus digambarkan sebagai memiliki sifat dan melakukan pekerjaan Allah (Yoh.16:8-11, 3:18).
  • Roh Kudus dinyatakan sederajat dengan Allah(Mat 28:19; 2Kor 13:14, 1Pet 1:2).
Doktrin Tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran-peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang ayah, seorang anak, dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah.
Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya, doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia dalah tiga.
  • Doktrin Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi
  • Doktrin Tritunggal bukan merupakan suatu kontradiksi; Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi.
  • Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.
  • Ketiga pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus.
  • Doktrin Tritunggal memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah.