Translate
Selasa, 17 September 2013
Tata Perayaan Ekaristi
Tata Gerak dalam Perayaan Ekaristi
Arikel kecil ini membahas tentang Tata gerak dalam Perayaan Ekaristi yang berdasarkan kepada TPE 2005 (buku Umat)
RITUS PEMBUKA.
Perarakan Masuk: Umat berdiri, menyambut Imam dan para pelayan lain (misdinar, lektor, Prodiakon, dan Diakon) memasuki ruang Altar, biasanya umat menyanyikan lagu pembuka seperti PS 319-339 atau MB 159-176. Ketika Imam (dan para pelayan) sampai ke depan altar Imam menyatakan penghormatannya dengan berlutut/ membungkuk, dan langsung mengambil tempat di altar/mimbar.
Tanda salib: Umat berdiri, mengikuti aba-aba dari imam membuat tanda salib, dahi, dada, bahu kiri bahu kanan. Ingat tanda salib harus dilakukan dengan penuh penghayatan, jangan asal buat sehingga mengaburkan makna Trinitas, dan Kuk pengorbanan Yesus.
Salam dan kata pengantar: Umat berdiri, Imam mengucapkan salam mis: Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Putra-Nya, Yesus Kristus Beserta mu, Umat menjawab: Dan sertamu juga. Lalu mendengarkan kata pengantar yang bertujuan untuk mengarahkan umat kepada tema (inti) misteri yang dirayakan, setelah kata pengantar menyusul TOBAT.
Tobat: Umat Berlutut/berdiri. Dalam sikap Tobat yang benar (sesuai dengan TPE) adalah berlutut (genuflexit) yang bermakna kerendahan hati dan mohon ampun, akan tetapi dewasa ini banyak gereja yang saat doa Tobat berdiri dengan alasan ke-praktisan agar tidak terlalu banyak gerak yang besar (bertulut lalu berdiri), saat Kyrie Eleison (Tuhan kasihanilah) umat tetap berlutut.
Kemuliaan: Umat berdiri. Madah kemuliaan ditujukan kepada Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus yang isinya adalah Memuliakan Allah karena segala misteri penyelamatan Dunia. Madah kemuliaan dalam penggunaannya dalam Liturgi telah diatur dalam penanggalan Liturgi, biasanya di nyanyikan/didaraskan pada Hari Minggu, Hari raya, dan Pesta para Kudus.
Doa pembuka (collecta): Umat Berdiri. Doa pebuka atau collecta adalah doa yang membuka perayaan ekaristi setelah umat berhimpun (collecta=berkumpul), imam membawakan doa pembuka dan umat menjawab Amin.
LITURGI SABDA
Bacaan I: Umat duduk. mendengarkan bacaan yang diambil dari Perjanjian lama/perjanjian baru. Duduk diartikan sebagai kesediaan diri untuk mendengarkan sabda Allah.
Mazmur Tanggapan: Umat duduk. Umat turut menjawab dengan reffren mazmur tanggan.
Bacaan II: Umat duduk, Bacaan diambil dari bacaan Hari minggu atau hari raya.
Alleluya/bait pengantar Injil. Umat berdiri. Menyanyikan/menyerukan Alleluya/BPI.
Bacaan Injil: Umat Berdiri. Imam membacakan Injil dengan seruan pembuka:
I Tuhan sertamu:
U Dan setamu juga
I Inilah injil Yesus Kristus menurut santo (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes)
U Dimuliakanlah Tuhan. (disini umat membuat tanda salib kecil di dahi: yang menandakan mohon penerangan roh Kudus agar mampu mengerti sabda yang didengar, Mulut: memohon agar mampu mewartakannya, dan Dada: yang bermakna menyimpannya dalam hati dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari hari).
Umat mendengarkan pembacaan Injil hingga Imam berseru :Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya. Umat menjawab: Sabda-Mu adalah jalan kebenaran dan hidup Kami.
Homili (khotbah): Umat duduk.
Syahadat: Umat berdiri. Imam mengajak umat untuk mengucapkan syahadat. Dalam Tata gerak syahadat selain berdiri adalah membungkuk atau berlulut yang dilakukan pada kata: "...Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan maria..." (syahadat Rasuli) dan "...Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia..." (syahadat Nikea-konstantinpel). pada hari raya Natal diucapkan berlutut.
Doa umat: Umat berdiri.
LITURGI EKARISTI
Persembahan: Umat duduk. Seringkali ketika persembahan dihunjukan (Terpujilah Engkau ya Tuhan Allah semesta alam sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti.....) umat berlutut, memang ini tidak jelek apalagi dilarang akan tetapi tidak sesuai dengan TPE yang menuliskan duduk bukan berlutut. Akan tetapi itu kembali kepada pribadi masing-masing.
Doa persiapan persembahan: Umat berdiri. Imam berseru: Berdoalah saudara-saudari supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan kepada Allah, Bapa yang mahakuasa.Umat menjawab: semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus. Imam mengucapkan Doa persiapan persembahan dan dijawab umat: Amin.
Doa Syukur Agung
Dimulai saat dialog pebuka:
I Tuhan sertamu
U Dan sertamu juga
I Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan
U Sudah kami arahkan
I Marilah bersyukur kepada Tuhan, Allah kita
U Sudah layak dan sepantasnya.
I (mengucapkan Prefasi dari buku imam)
Prefasi diakhiri dengan seruan Kudus:
U: Kudus, Kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu terpujilah Engkau disurga, diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan, Terpujilah Engkau disurga.
Doa Sykur Agung. Umat berlutut/duduk (maksudnya adalah jika tidak memungkinkan untuk berlutut maka duduk diperbolehkan)
Doa Syukur Agung mempunyai beberapa bagian : bagian te Igitur yaitu doa yang ditujukan bagi Gereja, lau memperingati umat beriman, para Kudus (communicantes), Epiklesis I , Kisah Institusi (kisah perjamuan Yesus), Anamnesis, Epiklesis II, Doxologi (pujian kepada Allah Tri tunggal).
KOMUNI
Bapa Kami: Umat berdiri> mengucapkan doa Bapa kami, yang disusul dngan doa damai.
Saat Doa damai harap diperhatikan bagi semua umat beriman agar tidak mengucapkan doa ini, karena doa damai sendiri bersifat Presidensial (artinya Hanya untuk Imam yang memimpin) bukan umat, dalam TPE baru dalam buku umat pada bagian Doa Damai hanya di Tulis (pada ahir doa umat menjwab: Amin lih. TPE Umat hal 94 no 23). Imam menyatakan damai dengan kata: Damai Tuhan besertamu, umat menjawab; Dan sertamu juga. Umat bersalaman dengan orang di kanan-kiri, depan dan belakang dengan mengucapkan Damai Kristus.
ANAK DOMBA ALLAH (Agnus Dei)
Seruan Anak Domba Allah: Umat berlutut.
Persiapan Komuni: Umat berlutut. Setelah seruan Anak Domba Allah, imam mengangkat Roti dan Anggur dan berkata: Inilah Anak Domba Allah yang menghapus Dosa Dunia, Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya. umat menjwab: Ya Tuhan. saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalaj saja maka saya akan sembuh. Disini umat berdoa dalam hati mempersiapkan diri untuk menyambut Tubuh (dan Darah) Kristus.
Penerimaan Komuni. Umat menghampiri Imam dengan tangan kiri dirumpangkan di atas tangan kanan, Imam berseru Tubuh Kristus, umat menjawab Amin. Lalu kembali ke tempat duduk dengan hening.
Madah Pujian umat duduk.
Antifon Komuni (jika Ada) umat berdiri, biasanya langsung menyusul Doa sesudah Komuni, di ahir doa umat menjawab Amin. [Jika ada pengumuman umat duduk jika tidak ada tetap berdiri untuk menerima Berkat]
RITUS PENUTUP
Berkat penutup: Umat berdiri/berlutut, seperti halnya dalam Tobat demikian juga dalam berkat, tergantung kebiasaan gereja setempat, biasanya berkat di berikan berdiri tetapi ada beberapa paroki/stasi/kapel yang berlutut saat berkat.
Perarakan Keluar:Umat berdiri. dengan menyanyikan lagu penutup.
Terima kasih :D
Ekaristi
Ekaristi
"Sakramen yang terluhur ialah Ekaristi mahakudus, di dalamnya Kristus Tuhan sendiri dihadirkan, dikurbankan dan disantap, dan melaluinya Gereja selalu hidup dan berkembang. Kurban Ekaristi, kenangan wafat dan kebangkitan Tuhan, dimana Kurban salib diabadikan sepanjang masa, adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani dan sumber yang menandakan serta menghasilkan kesatuan umat Allah dan menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus. Sedangkan sakramen lain dan semua karya kerasulan gerejawi melekat erat dengan Ekaristi mahakudus dan diarahkan kepadanya." KHK Kan. 897 (judul III Ekaristi Mahakudus).
Artikel sederhana ini akan menguraikan apa itu Ekaristi, makna dalam Ekaristi dan sisi Teologis dari sakramen Ekaristi sebagai sakramen puncak yang sungguh agung.
1. Pengertian Ekaristi
Ekaristi adalah pusat kehidupan, baik bagi gereja keseluruhan, Gereja setempat, maupun bagi kehidupan setian orang beriman. Sebab dalam Perayaan Ekaristi terletak karya Allah untuk memuliakan Bapa dengan perantaraan Putra-Nya. Kecuali itu PE merupakan pengenangan karya penebusan. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa karya penebusan dihadirkankembali pada saat sekarang untuk umat beriman; maksudnya supaya umat beriman dapat terlibat langsung dalam karya penebusan itu dan menikmati buahnya. Semua Perayaan ibadat lainnya, dan juga pekerjaan sehari-hari dalam kehidupan kristen, berkaitan erat dengan PE: bersumber dan diarahkan padanya. (bdk PUMR 1 dan KHK di atas).
2. Ekaristi Makna Berbagi
Dalam perayaan Ekaristi kita dihimpun untuk bersama berbagi, sebagai hakekat ekaristi yang adalah berbagi roti dan anggur yang sama (yaitu Yesus Kristus). Ekaristi juga mengajak kita untuk saling mengingat akan Saudara kita yang dikurbankan diatas kayu salib, Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya kepada dunia sebagai Anak Domba Allah (Agnus Dei). Perjamuan Kudus ini akan makin terlihat unsur berbagi terutama saat kita memasuki Ritus Komuni saat pembagian Tubuh Kristus yang disambut umat dengan penuh Hormat. Dasar biblis (Dasar nas) dari peryaan Ekaristi adalah: Matius 26:26-29, Markus 14:22-25, Lukas 22:15-20, 1 Korintus 11:23-25. Dan dalam hal ini juga kita perhatikan ada unsur dari kisah Yesus memberi makan lima ribu orang (Mat. 14:13-21 pararel) dan Yesus memberi makan empat ribu orang (Mat. 15:32-39 pararel) yaitu: ".... Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, dan murid-murid-Nya mem-Bagi-bagikannya kepada orang banyak." (Mat. 14:19).
KERANGKA PERAYAAN EKARISTI
(Menurut TPE 2005)
RITUS PEMBUKA
Perarakan masuk.
Tanda salib.
Pengantar.
Tobat.
Tuhan Kasihani (Kyrie Eleison).
Kemuliaan (Gloria).
Doa Pembuka (Collecta).
LITURGI SABDA
Bacaan I.
Mazmur tanggapan.
Bacaan II
Alleluya/ Bait pengantar Injil.
Bacaan Injil.
Aklamasi sesudah Injil.
Homili (Khotbah)
Syahadat.
Doa Umat.
LITURGI EKARISTI
A. Persiapan persembahan.
Persiapan Persembahan.
Doa persiapan persembahan.
B. Doa Syukur Agung
a. Dialog pembuka.
b. Prefasi.
c. Kudus.
C. Komuni.
Bapa kami.
Embolisme.
Doa Damai.
Pemecahan Hosti.
Persiapan Komuni.
Penerimaan Tubuh (dan Darah) Kristus.
pembersihan bejana suci.
Saat hening,
(madah Pujian)
Doa sesudah Komuni (doa penutup).
RITUS PENUTUP
Pengumuman
Amanat Pengutusan
Berkat.
Pengutusan
Perarakan keluar
Minggu, 15 September 2013
Misa Tridentina - Komentar Singkat
Misa Tridentina -
Komentar Singkat
Oleh Anta
Ramadhan.
Misa
Tridentina adalah salah bentuk atau Forma Misa tradisional yang digunakan pada
masa konsili Trente tahun 1545. Bentuk misa ini pada umumnya memiliki ciri khas
yaitu altar yang menghadap timur atau Ad Orientem melekat pada dinding,
dan umat berada di belakang imam [sedangkan sekarang misa dilakukan dengan imam
menghadap umat].
Hingga
memasuki masa-masa konsili Vatikan II misa Tridentina atau lebih dikenal dengan
misa Latin tradisional masih digunakan, walau sudah ada beberapa perombakan
dari bentuk pertama. Di Indonesia khususnya misa Tridentina menggunakan apa
yang disebut Missale Romanum 1962, dalam buku Missale tersebut dengan rinci
menjelaskan bagaimana misa harus dirayakan, serta proprium-proprium untuk masa
biasa, masa khusus, hari raya dan peringatan.
Keunggulan
Misa ini adalah keindahan dan keagungan yang terkandung di dalamnya, mazmur,
nyanyian, Gradual, Alleluia, Antifon, semuanya dibawakan dengan indah dengan
langgam nyanyian Gregorian. Tata gerak pun diperhatikan dengan teliti dan
gerakan pun dilakukan dengan penuh penghayatan. Namun selain keunggulan, misa
tridentina latin ini mempunyai kekurangan, dimana imam menghadap altar dan
membelakangi umat, serta letak antara Altar dan panti umat begitu jauh,
sehingga mengakibatkan peran aktif umat menjadi kurang, selain ikut bernyanyi
saja. Pertisipasi umat dalam gerak dan doa pun kurang, sehingga dalam konsili
Vatikan II dalam konstitusinya tentang liturgi suci atau Sacrosanctum
Consilium mengatakan bahwa dalam liturgi suci, khusunya dalam perayaan Ekaristi
hendaknya ada pertisipasi aktif dari umat, sehingga umat tidak lagi menjadi
penonton pasif.
Pasca
Konsili Vatikan II, kebanyakan Gereja yang telah memimiliki altar Orientem atau
yang melekat pada tembok, segera membangun altar baru yang tidak melekat pada
tembok, dan berada di tengah-tengah antara panti Imam dan Umat, serta dalam IGMR
atau Instituio Generalis Missale Romanum yang baru dijelaskan bahwa
Tabernakel tidak berada di atas altar, tetapi terpisah atau berdiri sendiri,
sehingga altar baru adalah meja perjamuan yang sesungguhnya.
Misa
yang dirayakan pada zaman modern ini adalah hasil perubahan dari Misa
Tridentina, banyak doa yang disederhakan, nyanyian Ordinarium pun lebih
sederhana dan mudah dibawakan terutama bagi umat, lalu dalam misa modern pula
partisipasi umat dalam perayaan Ekaristi pun terlihat dengan jelas.
Akan
tetapi kembali kepada inti pembicaraan kita, Misa Tridentina dengan keindahan
dan keluhurannya itu tetap menjadi salah satu daya tarik umat Gereja pada zaman
modern ini, tahun 2007 Bapa Suci Benediktus XVI dalam Summorum Pontificum-nya
pada tanggal 14 September 2007 pada pesta Salib Suci, memaklumkan untuk Misa
Tridentina dapat dirayakan kembali, salah satunya adalah dengan dirayakannya
kembali ritus Tridentina yang lebih dari 1500 tahun lalu dirayakan.
Salah
satu responnya adalah dengan adanya website tentang misa tridentina dan
berbagai sumber tertulis dan multi media tersedia yang berkenaan dengan Misa
Tridentina, saya sering membuka website tersebut, di www.sanctamissa.org situs ini berisi tentang
ritus Tridentina. Selamat merayakan Misa Tradisional Latin, selamat merayakan
misteri agung iman kita.
Kamis, 14 Februari 2013
Paus Benediktus Mengundurkan diri?
Paus Benediktus XVI: Mengundurkan diri.
Joseph
Alois Ratzinger atau lebih dikenal sebagai Paus Benediktus XVI yang terpilih
menjadi Paus pada tahun 2005 ini, pada tanggal 13 Februari 2013 waktu Vatikan
menyatakan mengundurkan diri dari takhta ke-paus-annya. Selama 8 tahun Paus
Benediktus duduk sebagai pemimpin umat Katolik seluruh dunia, karya-karyanya
dalam bidang pastoral dan perdamaian telah banyak disumbangkannya bagi dunia.
Di mata umat, Paus Benediktus adalah orang yang humoris dan cinta damai, banyak
umat yang terkejut dengan berita pengunduran dirinya sebagai Paus ke 265 dalam
sejarah Gereja Katolik ini.
Konklaf direncanakan akan
berlangsung tidak lebih dari akhir bulan Maret mendatang. Ada kabar beredar
tentang penggantian Paus Benediktus, antara lain adalah berita tentang kandidat
paus berikutnya adalah dari negara berkembang, setidaknya dari Afrika dan
Amerika latin. Dalam konklaf para kardinal akan memilih paus baru dan
mengumumkannya dari balkon Basilika Santo Petrus dalam acara Habemus Papam!
Dalam hukum Gereja pengunduran diri dari
jabatan gerejawi adalah hal yang lumrah, pengunduran diri terjadi karena banyak
faktor, yang paling mungkin adalah kesehatan. Sejak tulisan ini dirilis belum ada berita yang lebih
rinci lagi tentang pengunduruan diri Paus Benediktus XVI. (arm)
Selasa, 29 Januari 2013
Siapakah Tuhan? Pandangan dari Sudut Teologis Umum
SIAPAKAH TUHAN?
Oleh: Anta Ramadhan
Banyak orang yang merasa dirinya
mengenal Tuhan yang ia sembah, banyak orang pula yang tidak peduli siapa atau
apa yang ia sembah. Pribadi Adi Kodrati itu sungguh sangat rumit jika
ditelusuri dari berbagai sudut pandang teologis[1].
Lalu muncullah gerakan filsafat yang mencoba menjelaskan Tuhan sebagai Pribadi
yang dapat dijelaskan dengan rinci, namun apa daya jauh panggang dari api, hal
itu tidak menyelesaikannya.
Bagi kebanyakan orang yang mengaku
beragama mengenal Tuhannya dari teks kitab suci, dan hanya terbatas pada ajaran
para guru atau alim ulama. Pengetahuan tentang Tuhan dipersempit dengan
batas-batas ajaran doktrin agama, Tuhan menjadi suatu yang eklusif dan terkesan
hanya milik golongan tertentu. Pada intinya mengenal Tuhan itu bukan dari apa
yang kita anut[2],
melainkan dari renungan kita tentang Pribadi Adi Kodrati tersebut.
Jauh ribuan tahun lalu, ketika zaman
prasejarah, orang-orang zaman itu sudah mengenal yang namanya “Tuhan” itu,
mereka mencoba berkomunikasi dengan-Nya, dan timbullah sistem kepercayaan
seperti Animisme, Dinamisme, Polytheisme, Totemisme, Paganisme, dan yang paling
muda adalah lahirnya Monotheisme yang lahir dari tanah timur tengah. Sebagai
sistem kepercayaan yang terus terpelihara, maka muncullah suatu ajaran atau
doktrin dari sistem kepercayaan tersebut, misalkan adanya upacara persembahan,
upacara kematian dsb.
Memasuki masa sejarah, sistem
kepercayaan itu kian lama berubah dan bahkan hilang, namun tetap pengaruhnya
masih sama, seperti Polytheisme masih terus terpelihara hingga sekarang,
walaupun bentuknya tidak sama dengan yang pada zaman prasejarah, Polytheisme
dianut hampir diseluruh Eropa hingga jatuhnya Helenisme dan berkembangnya
kekristenan, bangsa Romawi dan Yunani mempunyai banyak dewa dan dewi yang
merupakan personifikasi dari unsur alam, Zeus dewa Petir, Atlas dewa bumi dll.
Paganisme merupakah bentuk penyembahan
objek terlihat dan lebih menekankan penyembahan dengan korban hidup, walaupun
memiliki corak yang sama dengan Polytheisme, Paganisme agaknya berbeda sedikit
dari sistem upacara dan tradisi. Di Asia terdapat pula agama Polytheisme,
antara lain Hindu, Konghucu dan agama tanah Kanaan[3],
walaupun belakangan agama Hindu dan Konghucu menyebut dirinya agama Monotheis.
Pengaruh Polytheisme di Indonesia secara umum diterima dari kedatangan
orang-orang Hindu abad 8.
Kita bahas tentang Monotheisme. Secara
umum Monotheisme yang mempunyai pengaruh terbesar ada tiga yaitu Yahudi
(Yudaisme), Kristen, dan Islam. Yudaisme adalah salah satu bentuk kepercayaan
Monotheisme yang sangat menekankan aspek bahwa Allah itu esa (bdk Ulangan 6:4),
mereka menolak bentuk peribadahan yang menolak ajaran ke-esa-an Ilahi. Ketika
bangsa Ibrani datang ke tanah Kanaan mereka mendapat sandungan dari bangsa asli
tanah Kanaan, orang Amon, orang Filistin dsb, adalah penyembah banyak dewa,
sehingga bangsa Ibrani harus memperjuangkan integritas mereka kepada Yahwe.
Terus berkembang dari Musa hingga raja Daud, dan terus berkembang hingga zaman
Yesus Kristus (Isa Almasih) mulai mewartakan ajarannya.
Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa
agama samawi[4]
memiliki konflik yang pelik, bukan saja dalam hal kaidah[5]
tetapi juga politis. Pada awalnya Yudaisme mengharapkan kedatangan Mesias
sebagaimana yang dinubuatkan dalam Kitab Suci, namun mereka kecewa, Mesias
dinubuatkan berasal dari keturunan Daud dan lahir di Bethlehem, sedangkan Yesus
datang saat mulai pelayanannya dari Galilea, sehingga orang-orang Yahudi kecewa
dan menolak bahwa Yesus adalah Mesias sehingga mereka menyerahkan Yesus kepada
Pilatus untuk disalibkan. Lima ratus tahun setelah Yesus Kristus wafat, nabi
Muhammad lahir di tanah Arab, kembali orang Yahudi kecewa, mereka masih
menantikan Mesias sesuai dengan Nubuat, namun nabi berikutnya datang bukan
datang dari keturunan Ishak[6]
melainkan dari Ismail, makin tertusuklah bangsa Ibrani ini sehingga Yahudi dan
Kristen, Yahudi dan Islam memiliki konflik yang cukup pelik bahkan hingga saat
ini.
Kekristenan tampaknya lebih maju
sendiri dalam hal ke-Tuhan-an, mereka percaya bahwa Allah adalah Pribadi yang
satu dalam tiga persona, tida pribadi, inilah yang disebut Trinitas.
Kekristenan menganggap bahwa dalam Allah yang Esa itu ada tiga Pribadi, yaitu
Bapa, Putra dan Roh Kudus. Akan tetapi ajaran Trinitas sering disalah tafsirkan
oleh banyak orang, bahkan muncul bidat-bidat yang dengan sengaja melawan
Trinitas, mereka menyangkal bentuk Trinitas dan memberikan kesan bahwa tuhan
Kristen itu ada tiga. Akan tetapi kekristenan tetap mengakui bahwa Allah itu
satu, yang memiliki tiga pribadi.
Islam lahir dan tumbuh di tanah Arab
yang sebelumnya adalah negara paganisme, lahir sebagai agama Tauhid yang
mengajarkan bahwa Allah itu esa, (Al-Ikhlas 1), dan tidak ada yang lain selain
Dia. Sumber ajarannya adalah Al-Quran dan Al-Hadits, secara umum Islam dan
Yudaisme sama, mereka menjunjung tinggi ke esaan Allah dan menolak segala
bentuk berhala.
Lalu bagaimana dengan agama Bahai dan
Zoroasterisme? Kedua agama ini adalah agama sempalan yang senada dengan
ke-Yahudi-an dan ke-Islam-an, keduanya mengakui bahwa Tuhan itu esa, agama
Bahai adalah sinkretisme agama Hindu dan Islam, sama dengan Skit di India.
Zoroaster adalah nama yang mencetuskan ajarannya zoroasterisme, nada dan nafas
ajarannya adalah ke-esa-an Tuhan.
Bagaimana pula dengan Hindu dan
Konghucu? Memang kita mengenal kedua agama ini adalah agama yang memiliki
banyak dewa dan dewi, namun mereka mengaku bahwa mereka adalah monotheisme,
faktanya Hinduisme, dari ribuan dewa dan dewi, mereka mengakui hanya ada satu
Tuhan, Upper God, yang bernama Wishnu, dari Wishnu-lah semua dan segala
sesuatu berasal, sehingga agama Hindu mengaku sebagai agama Monotheisme,
demikian juga Konghucu, mereka percaya pribadi yang bernama “Bunda Langit”,
yaitu the Upper God dari semua dewa-dewi Konghucu, sedangkan agama
Buddha adalah agama monotheisme namun sedikit mengalami sinkretisme dengan
konghucu, mereka percaya bahwa Buddha adalah sumber kehidupan.
Shinto adalah agama Monotheisme, dewi
Matahari atau Amaterasu O-mi-Kami adalah dewi tertinggi, dari pada-Nya lahir
semua kehidupan, walaupun orang Jepang mempercayai banyak dewa, tetapi tetap
Dewi Matahari-lah yang banyak disembah.
Demikianlah penjabaran singkat tentang
Tuhan, kesimpulannya adalah bahwa Pribadi Adi Kodrati adalah Pribadi yang unik
sehingga kehadirannya dalam lingkup umat beragama sangat berpengaruh dalam
kehidupan sehari-hari, Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata tetapi Iman
dari hati-lah yang dapat menggambarkan siapah itu Tuhan, Iman-lah yang akan
menjelaskan bahwa Tuhan adalah Pribadi tempat bernaung.
Minggu, 13 Januari 2013
Saksi-Saksi Yehuwa 1
Saksi-Saksi Yehuwa
oleh: Anta Ramadhan
Saksi-saksi Yehuwa
atau Jehovah Witnes adalah perkumpulan orang beriman yang berpegang pada
nilai-nilai kebenaran Alkitab serta melaksanakan maksud tujuan yang terdapat
dalam Alkitab. Dalam dunia kekristenan, pada dasarnya dibagi menjadi tiga
aliran besar, yaitu Kristen Barat (Roma), Kristen Timur dan Gereja-gereja
reformasi. Jika dilihat dalam perkembangannya SSY (Saksi-saksi Yehuwa) termasuk
ke dalam Gereja reformasi, akan tetapi mereka tidak menyebut diri mereka
sebagai salah satu Gereja reformasi tetapi menyebut diri mereka sebagai saksi
Yehuwa, mereka bukan Katolik karena mereka tidak mengakui Paus di Roma dan
tidak mengakui banyak ajaran Gereja Katolik, dan mereka bukan Gereja reformasi
karena mereka tidak memisahkan diri dari Gereja mana pun.
Mereka adalah
orang Kristen yang berusaha menjalankan nilai-nilai dan maksud tujuan Ilahi
dalam Alkitab. Memang selama perjalanannya banyak orang tidak mengenal siapa
Saksi-saksi Yehuwa itu, banyak orang yang mengenalnya hanya dari sisi negatif
saja. Memang kemunculan mereka sangat kontrofersi karena mereka datang membawa
kabar Kerajaan Allah dalam Alkitab kepada orang-orang (yang nota bene sudah
beragama) dan mereka pergi dari rumah ke rumah untuk memberitakan kerajaan
Allah itu. Mereka membawa Alkitab kemana pun mereka pergi, dan dengan penuh
keramahan mereka memberitakan Injil. Sama seperti rasul Paulus yang berkeliling
Asia kecil (Turki dan sekitarnya) membawa pesan tantang keselamatan dan
kerajaan Allah yang suddah mendekat.
Saya kenal dengan seorang
saksi Yehuwa, dan saya tidak menemukan apa yang dikatakan orang tentang mereka,
hal-hal negatif tidak ada sama sekali, seiring berjalannya waktu, saya semakin
kenal dengan apa yang disebut Saksi-saksi Yehuwa, mereka sama seperti kita pada
umumnya, akan tetapi mereka hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, yang
menurut saya belum tentu orang-orang Kristen lain yang sering mencibir SSY ini
dapat menjalankan prinsip-prinsip Alkitab. Saksi-saksi Yehuwa tidak memiliki
banyak doktrin atau ajaran, mereka hanya memiliki satu ajaran utama adalah
Alkitab. Saksi-saksi Yehuwa mencetak Alkitab mereka sendiri yang berjudul “Kitab
Suci Terjemahan Dunia Baru” yang menurut sumber terpercaya telah
diterjemahkan lebih dari 250 bahasa di dunia dan telah disebarkan secara
cuma-cuma kepada mereka yang membutuhkan pegangan hukum ini.
Banyak sumber
sumber sekuler yang membicarakan saksi-saksi Yehuwa dengan tidak bertanggung
jawab, sering saya temui bahwa sumber-sumber tersebut lebih menyudutkan SSY
daripada memberikan suatu informasi yang benar; kebanyakan adalah seperti
fitnah yang kejam bagi mereka. Menurut pandangan saya, semangat saksi-saksi
Yehuwa dalam memberitakan Injil itu patut ditiru oleh orang-orang Kristen. Walau
pun saksi-saksi Yehuwa memberitakan Injil kepada orang yang sudah beragama,
mereka tidak memaksa orang lain untuk menjadi saksi-saksi Yehuwa, bahkan dalam
perhimpunan (sebutnan bagi pertemuan ibadat, kebaktian mingguan) banyak
orang-orang non Saksi datang dan ikut dalam perhimpunan mereka yang sangat
kekeluargaan dan semua yang datang akan disambut dengan hangat.
Toleransi yang
dibangun oleh saksi Yehuwa kepada agama lainlah yang membuat mengapa mereka
sangat diterima di berbagai negara, bahkan mereka dapat pernghargaan sebagai
warga negara yang baik, bandingkan dalam Roma 13:1-4, disana dikatakan bahwa
kita harus tunduk kepada pemerintah yang berkuasa, mereka dengan tertib
menjalankan perintah Alkitab tersebut dengan menjadi warga negara yang baik,
walau mereka tidak ikut dalam wajib
militer, tetapi mereka tetap menghargai hukum negara.
Ini yang pertama
tentang saksi-saksi Yehuwa, semoga bermanfaat…
Jumat, 28 Desember 2012
Monotheisme
Hari ini saya akan membahas tentang Monotheisme sebagai salah satu bentuk kepercayaan...
MONOTEISME
Monoteisme (berasal dari kata Yunani monon yang berarti tunggal dan Theos
yang berarti Tuhan) adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan
berkuasa penuh atas segala sesuatu.
Terdapat berbagai bentuk kepercayaan
monoteis, termasuk:
I.
Teisme, istilah yang mengacu kepada keyakinan akan tuhan yang 'pribadi', artinya
satu tuhan dengan kepribadian yang khas, dan bukan sekadar suatu kekuatan ilahi
saja.
II.
Deisme adalah bentuk monoteisme yang meyakini bahwa tuhan itu ada. Namun demikian,
seorang deis menolak gagasan bahwa tuhan ini ikut campur di dalam dunia. Jadi,
deisme menolak wahyu yang khusus. Sifat tuhan ini hanya dapat dikenal melalui
nalar dan pengamatan terhadap alam. Karena itu, seorang deis menolak hal-hal
yang ajaib dan klaim bahwa suatu agama atau kitab suci memiliki pengenalan akan
tuhan.
III.
Teisme monistik adalah suatu bentuk monoteisme yang ada dalam Hindu. Teisme seperti ini
berbeda dengan agama-agama Semit karena ia mencakup panenteisme, monisme, dan
pada saat yang sama juga mencakup konsep tentang Tuhan yang pribadi sebagai
Yang Tertinggi, Mahakuasa, dan universal. Tipe-tipe monoteisme yang lainnya
adalah monisme bersyarat, aliran Ramanuja atau Vishishtadvaita, yang mengakui
bahwa alam adalah bagian dari Tuhan, atau Narayana, suatu bentuk panenteisme,
namun di dalam Yang Mahatinggi ini ada pluralitas jiwa dan Dvaita, yang berbeda
dalam arti bahwa ia bersifat dualistik, karena tuhan itu terpisah dan tidak bersifat
panenteistik.
IV.
Panteisme berpendapat bahwa alam sendiri itulah Tuhan. Pemikiran ini menyangkal
kehadiran Yang Mahatinggi yang transenden dan yang bukan merupakan bagian dari
alam. Tergantung akan pemahamannya, pandangan ini dapat dibandingkan sepadan
dengan ateisme, deisme atau teisme.
V.
Panenteism adalah suatu bentuk teisme yang berkeyakinan bahwa alam adalah bagian dari
tuhan, tapi tuhan tidaklah identik dengan alam. Pandangan ini diikuti oleh
teologi proses dan juga Hindu. Menurut Hindu, alam adalah bagian dari Tuhan,
tetapi Tuhan tidak sama dengan alam melainkan mentransendensikannya. Akan tetapi, berbeda dengan teologi proses, Tuhan dalam Hinduisme itu
Mahakuasa. Panenteisme dipahami sebagai "Tuhan ada di dalam alam
sebagaimana jiwa berada di dalam tubuh". Dengan penjelasan yang sama,
panenteisme juga disebut teisme monistik di dalam Hinduisme. Namun karena
teologi proses juga tercakup di dalam definisi yang luas dari panenteisme dan
tidak menerima kehadiran Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa, pandangan Hindu
dapat disebut sebagai teisme yang monistik.
VI.
Monoteisme
substansi, ditemukan misalnya dalam sejumlah agama pribumi Afrika, yang berpendapat
bahwa tuhan yang banyak itu adalah perwujudan dari substansi yang satu yang ada
di belakangnya, dan bahwa substansi yang ada di belakangnya itulah Allah. Pandangan ini banyak miripnya dengan pandangan Tritunggal Kristen tentang
tiga pribadi yang mempunyai hakikat yang sama.
Sebagai perbandingan, lihat Politeisme, yang berpendapat bahwa ada
banyak tuhan. Dualisme mengajarkan bahwa ada dua kekuatan ilahi atau
prinsip-prinsip kekal yang independen, yang satu adalah Kebaikan, dan yang
lainnya adalah kuasa jahat, seperti yang diajarkan oleh Zoroastrianisme kuno
(Zoroastrianisme modern sepenuhnya bersifat monoteistik). Pandangan ini lebih
lengkap diajarkan dalam aliran-aliran yang muncul belakangan dari sistem
Gonistik, seperti misalnya Manikeanisme.
Kebanyakan kaum monoteis akan mengatakan bahwa berdasarkan definisinya,
monoteisme pasti berlawanan dengan politeisme. Namun demikian, para pemeluk di
lingkungan tradisi politeistik seringkali berperilaku seperti kaum monoteis.
Ini disebabkan karena keyakinan akan tuhan yang banyak itu tidak berarti bahwa
mereka menyembah banyak tuhan. Secara historis, banyak pemeluk politeis percaya
akan keberadaan banyak tuhan, tetapi mereka hanya menyembah satu saja, yang
dianggap oleh si pemeluk itu sebagai Tuhan yang Mahatinggi. Praktek ini
disebut henoteisme.
Ada pula teologi-teologi monoteistik di dalam Hinduisme yang mengajarkan
bahwa rupa-rupa Tuhan yang banyak itu, yaitu Wisnu, Syiwa, atau Dewi,
semata-mata mewakili aspek-aspek dari kekuatan Ilahi yang ada di belakangnya
atau Brahman (lih. artikel tentang Nirguna Brahman dan Saguna Brahman).
Sebagian orang mengklaim bahwa Hinduisme tidak pernah mengajarkan politeisme
dan klaim seperti itu bisa dianggap benar sebagai salah satu pandangan
Hinduisme, yaitu pandangan Smarta yang adalah sebuah pandangan monoteistik yang
inklusif dari monoteisme, seperti yang akan dibahas kelak. Pandangan Smarta ini mendominasi pandangan Hinduisme di Barat dan telah
membingungkan semua orang Hindu karena mereka dianggap politeistik. Aliran
Smarta ini adalah satu-satunya cabang dalam Hinduisme yang sepenuhnya mengikuti
pandangan ini. Swami Vivekananda, seorang pengikut Ramakrishna, serta banyak
tokoh lainnya yang memperkenalkan agama Hindu ke Barat, semuanya adalah
penganut aliran Smarta. Hanya seorang pemeluk Smarta yang tidak mempunyai
masalah untuk menyembah Syiwa atau Wisnu bersama-sama karena ia memahaminya
sebagai aspek-aspek yang berbeda dari Tuhan yang semuanya membawa kepada Tuhan
yang sama. Jadi, menurut teologi Smarta, Tuhan dapat memiliki banyak sekali
aspek, dan dengan demikian, begitu keyakinan ini, mereka percaya bahwa Wisnu
dan Syiwa sesungguhnya adalah Tuhan yang satu dan sama. Para teolog Smarta
telah banyak mengutip referensi untuk mendukung pandangan ini. Misalnya, mereka
menafsirkan ayat-ayat dalam Sri Rudram, mantra yang paling suci dalam Syiwaisme,
dan Wisnu sahasranama, salah astu doa yang paling suci dalam Wisnuisme, untuk
membuktikan keyakinan ini. Sebaliknya, seorang pemeluk Wisnuisme menganggap
Wisnu sebagai Tuhan satu-satunya yang sejati, yang layak disembah dan
menganggap penyembahan terhadap bentuk-bentuk yang lainnya lebih rendah atau
sama sekali keliru.
Monoteisme dapat dibagi menjadi berbagai bentuk berdasarkan
sikapnya terhadap politeisme: monoteisme inklusif menganggap bahwa semua tuhan
atau dewa dalam politeisme semata-mata hanyalah nama-nama yang lain dari Tuhan
monoteistik yang sama; Smartaisme, sebuah denominasi Hindu, mengikuti keyakinan
ini dan percaya bahwa Tuhan itu hanya satu namun mempunyai berbagai aspek dan
dapat disapa dengan nama yang berbeda-beda. Keyakinan ini mendominasi pandangan
Hinduisme di barat. Sebaliknya, monoteisme eksklusif mengklaim bahwa semua
tuhan ini adalah salah dan berbeda dari Tuhan yang monoteistik. Mereka itu
hanyalah rekaan kuasa jahat, atau semata-mata suatu kekeliruan, sebagaimana
yang dipahami oleh Wisnuisme, suatu aliran dalam Hinduisme, terhadap
penyembahan apapun selain kepada Wisnu. Monoteisme eksklusif adalah ajaran yang
terkenal dalam ajaran agama-agama Abrahamik.
Monoteisme diduga berasal dari ibadah kepada tuhan yang tunggal di dalam suatu
panteon dan penghapusan tuhan-tuhan yang lain, seperti dalam
kasus penyembahan Aten dalam pemerintahan firaun Mesir Akhenaten, di bawah
pengaruh istrinya yang berasal dari Timur, Nefertiti. Ikonoklasme pada masa
pemerintahan firaun ini dianggap sebagai asal-usul utama penghancuran
berhala-berhala dalam tradisi Abrahamik, yang didasarkan pada keyakinan bahwa
tidak ada Tuhan lain di luar tuhan yang mereka akui. Dengan demikian,
sebetulnya di sini tergantung pengakuan dualistik dan diam-diam tentang keberadaan
tuhan-tuhan yang lain, namun hanya sebagai lawan yang harus dihancurkan karena
mereka mengalihkan perhatian dari tuhan utama mereka.
Monoteisme sebagaimana yang diwarisi oleh bangsa Israel dalam pengalaman
Exodus di bawah pimpinan Musa, dianggap, oleh mereka yang berpendapat bahwa
bangsa Israel ini adalah orang-orang Hiksos, sebagai pewaris
kebijakan-kebijakan keagamaan Akhenaten, karena sebelumnya orang-orang Yahudi
ini adalah politeis seperti halnya orang-orang Mesir. Masalah-masalah lain
seperti Hak ilahi Raja juga muncul dari hukum-hukum firaun tentang penguasa
sebagai demigod atau wakil-wakil dari Pencipta di muka bumi. Kuburan-kuburan
yang besar di piramida Mesir yang mengikuti observasi astronomis, menggambarkan
hubungan antara firaun dengan langit atau sorga dan karena itu kemudian diambil
oleh para penguasa Krisen yang mengklaim bahwa mereka diberikan kekuasaan
langsung oleh Allah.
Zoroastrianisme dianggap oleh sebagian pakar sebagai
bentuk kepercayaan monoteistik yang paling awal yang berevolusi dalam kehidupan
manusia, meskipun sebagian turunannya tidak sepenuhnya demikian, karena Tuhan
yang utama dalam turunan-turunan seperti Zurvanisme bukanlah pencipta
satu-satunya. Ada teori yang menyatakan bahwa Yudaisme dipengaruhi oleh
Zoroastrianisme, terutama pada masa pembuangan di Babel, dan setelah itu banyak
bagian dari Perjanjian Lama yang ditulis dan disunting. Yudaisme yang lebih awal
diasumsikan hanya mengakui bahwa YHVH adalah allah suku mereka (kemungkinan
terkait dengan Yaw) yang merupakan dewa pelindung para keturunan Abraham, atau
bahwa ada banyak allah tetapi bahwa hanya allah mereka sajalah yang paling
kuat. Pandangan ini tidak sesuai dengan pemahaman diri agama-agama Abrahamik -
Yudaisme, Kristen, Islam – yang secara tradisional menegaskan bahwa monoteisme
eksklusif adalah agama asli dari seluruh umat manusia, sementara allah-allah
lainnya dipandang sebagai berhala dan makhluk-makhluk yang keliru disembah
sebagai tuhan.
Beberapa profesor arkeologi membuat klaim yang controversial bahwa banyak
cerita di dalam Kitab Suci Ibrani, termasuk catatan-catatan penting mengenai
Musa, Salomo, dan lain-lainnya, sesungguhnya mula-mula dikembangkan oleh para
penulis yang dipekerjakan oleh Raja Yosia (abad ke-7 SM) untuk
merasionalisasikan keyakinan monoteistik terhadap YHVH. Teori ini mencatat
bahwa negara-negara tetangga, seperti misalnya Mesir, Persia dll., meskipun
menyimpan catatan-catatan tertulis, tidak mempunyai tulisan-tulisan mengenai
cerita-cerita Alkitab atau tokoh-tokoh utamanya sebelum 650 SM. Klaim-klaim seperti itu diuraikan
secara terinci dalam buku Who Were the Early Israelites? oleh William G.
Dever, William B. Eerdmans Publishing Co., Grand Rapids, MI (2003).
Buku lainnya yang serupa adalah The Bible Unearthed oleh Neil A. Silberman
dan rekan-rekannya, Simon dan Schuster, New York (2001).
Meskipun orang Kristen percaya akan satu Allah, mereka mengakui bahwa Allah
ini, pada kenyataannya, mempunyai tiga pribadi: Allah Bapa, Allah Anak, dan
Allah Roh Kudus (bersama-sama disebut Tritunggal), Orang Kristen
menekankan bahwa agama mereka bersifat monoteis. Biasanya teologi Kristen
mengaku bahwa ketiga pribadi ini tidaklah independen melainkan 'homoousios',
artinya bersama-sama mereka mempunyai hakikat atau substansi ilahi yang sama. Namun, sebagian orang mengatakan bahwa agama Kristen adalah suatu bentuk
dari Triteisme. Lebih jauh, sebagian sekte minoritas dari agama Kristen, seperti
misalnya Saksi Yehuwa, menyangkal gagasan tentang Tritunggal ,
sementara yang lainnya, seperti sekte Mormonisme, menyembah hanya
satu Allah, namun terbuka terhadap keberadaan yang lain-lainnya. Rastafarian,
seperti banyak orang Kristen lainnya, percaya bahwa Allah adalah esa dan juga
Tritunggal, dalam kasus mereka, Allah adalah Haile Selassie. Kaum Rasta
memandang diri mereka sendiri, dan kemungkinan juga semua orang, sebagai unsur
Roh Kudus dari Tritunggal, dengan Haile Selassie sebagai penjelmaan dari Allah
Bapa dan Allah Anak. Haile Selassie juga dipandang sebagai kepala, dan kaum
Rastafarian sebagai tubuh, dari Allah.
Monoteisme dalam Islam
Dalam Al-Qur'an, Surah Al Baqarah 2:115
ولله المشرق
والمغرب فاينما تولوا فثم وجه الله ان الله وسع عليم
Terjemahan : Dan kepunyaan Allah-lah
Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Dari pernyataan di atas, kita dapat melihat bahwa seperti Yudaisme dan
Kekristenan--penafsiran Al Qur'an tentang Allah adalah Tuhan yang kehadiran
rohaninya dialami di dalam seluruh jagad raya. Islam menjelaskan monoteisme
dalam cara yang sederhana. Terjemahan monoteisme dalam bahasa Arab adalah
(Tauhid). Tauhīd berarti satu (berasal dari kata wahid/ahad). Kata ini
menyiratkan penyatuan, kesatuan atau mempertahankan sesuatu agar tetap satu.
Syahadat (الشهادة), adalah pengakuan atau pernyataan percaya akan keesaan
Allah dan bahwa Muhammad adalah nabinya. "Kalimat tauhīd" yang
berbunyi: "Lailahailallah" yang berarti bahwa satu-satunya tuhan
(ilah) yang pantas untuk diabdi, ditaati, disembah, diikuti ajarannya hanyalah
Allah.
Ajaran Tauhid menurut Islam dibawa oleh seluruh Nabi/Rasul tak terkecuali.
Tidak semua Nabi dikisahkan dalam Al Quran. Hanya saja setelah Kenabian
Muhammad tidak akan ada Nabi lagi. Nabi-nabi sebelum Muhammad diutus untuk
umatnya masing-masing, sedangkan Muhammad sebagai penutup para Nabi diutus
untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Pengucapan syahadat dalam Islam adalah salah satu dari kelima Rukun Islam
yang diakui oleh Muslim . Bila diucapkan dengan suara keras dan dengan
bersungguh-sungguh, maka orang yang mengucapkannya dianggap telah menyatakan
dirinya sebagai pemeluk agama Islam. Salat di dalam Islam, misalnya, mencakup pernyataan
kesaksian tentang monoteisme. Islam menyatakan "Keesaan Allah"
sebagai ajaran utama mereka. Lebih jauh, Islam menganggap ajaran Tritunggal
yang dipahami Islam sebagaimana yang ada pada agama Kristen sebagai
penyimpangan terhadap ajaran (Yesus/Isa) yang ada di dalam ajaran Islam
tersebut.
Kebenaran seseorang dalam Islam diukur dari "penyerahan dirinya secara
total kepada ajaran Allah". Penyerahan diri yang dimaksud adalah
menempatkan diri sebagai pelayan Tuhan maksudnya hidup karena mencari keridhaan
Allah dan tidak lagi hidup untuk kepentingannya sendiri, karena hanya dengan
demikian pemeluk Islam dianggap kaffah dalam beragama. Mereka yang mengaku diri
Islam namun dalam kehidupan mereka tidak melaksanakan ajaran-ajaran yang ada
dalam Islam, dapat disebut sebagai orang munafik. Orang munafik adalah orang
yang tidak jelas keyakinannya, orang yang di satu sisi mengakui Islam namun di
sisi lain ia tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dalam Islam. Orang-orang yang seperti inilah yang disebut dengan orang-orang yang kafir
dengan sebenar-benarnya.
Dalam pengertian yang universal tauhīd sering juga dilambangkan dengan
angka O (nol), yang berarti suatu keadaan di mana seseorang sudah mengikhlaskan
diri sepenuhnya kepada Allah, sudah menanggalkan egonya, kepentingannya
sehingga dirinya dengan kesadaran hidup meridukan ridha dari Allah , yang ada
hanyalah Allah dan dirinya hanyalah perpanjangan tangan Allah. Jika ego telah
hilang maka inilah penyatuan dengan Yang Maha Kuasa atau Manunggaling Kawulo
Gusti yang sebenarnya hanya ada dalam agama Hindu. Ketika Syeh Siti Jenar
mengungkapkan ini di tolak oleh sebagian besar umat Islam. Karena itu simbol nol tidak ada artinya
dalam umat Islam. Nol berarti nir kehampaan dan ini padanannya adalah nirwana
atau nirguna Tuhan tak tergambarkan, namun kenyataannya Islam menggambarkan
Tuhan dengan sifat-sifat, Maha Besar, Maha Kuasa, dll.
Monoteisme dalam agama Bahá'í
Seperti dalam
agama Islam, agama Bahá'í memahami monoteisme dalam pengertian yang sederhana.
Doa wajib dalam agama Bahá'í, misalnya, mengandung pernyataan kesaksian
monoteistik yang jelas. Kedua agama ini menyatakan "Keesaan Allah"
(Tauhīd) sebagai ajaran utama mereka. Seperti juga halnya Islam, Bahá'í
menganggap ajaran Tritunggal dalam agama Kristen sebagai penyimpangan terhadap
ajaran asli Yesus yang ada dalam Bahá'í. Bahá'í memandang ajaran-ajaran
non-monoteisme yang muncul sebelumnya sebagai versi kebenaran yang kurang
dewasa.
Agama Bahá'í juga menerima keotentikan para pendiri agama yang mengajarkan
monoteisme, seperti misalnya Wisnuisme Gaudiya, yang memusatkan ibadahnya
kepada Krisna sebagai Tuhan atau bahkan apa yang kadang-kadang dipahami sebagai
ajaran-ajaran ateistik seperti misalnya Buddhisme.
Hinduisme
Dalam Hinduisme, ada beberapa pandangan yang terdiri dari monisme,
dualisme, panteisme, panenteisme, yang disebut oleh sebagian pakar sebagai
teisme monistik, serta monoteisme yang ketat. Namun mereka bukan
politeistik, seperti yang dipandang kebanyakan orang luar. Hinduisme seringkali
keliru ditafsirkan banyak orang sebagai agama politeistik. Contohnya adalah
pemeluk Hindu sendiri, contohnya kaum Smarta, yang mengikuti filsafat Advaita,
adalah monis, dan memahami berbagai manifestasi dari Tuhan yang esa atau sumber
keberadaan. Kaum monis Hindu memahami satu keesaan, dengan berbagai pribadi
Tuhan, sebagai aspek-aspek yang berbeda dari Yang Maha Tinggi dan Esa, seperti
halnya satu pancaran cahaya yang dipisah-pisahkan menjadi berbagai macam warna
oleh sebuah prisma, dan semuanya sah untuk disembah. Sebagian dari aspek-aspek
Tuhan di dalam agama Hindu mencakup Dewi, Wisnu, Ganesya, dan Syiwa. Pandangan
Smarta inilah yang mendominasi pandangan tentang Hinduisme di Barat. hal ini
disebabkan karena Swami Vivekananda, seorang pengikut Ramakrishna, di antara
banyak orang lainnya, yang memperkenalkan keyakinan Hindu ke dunia Barat,
semuanya adalah penganut Smarta. Aliran-aliran Hinduisme lainnya, seperti yang
digambarkan kelak, tidak menganut keyakinan ini secara ketat dan lebih erat
berpegang pada persepsi Barat tentang arti keyakinan yang monoteistik. Selain itu,
seperti agama-agama Yudeo-Kristen yang percaya akan malaikat, orang Hindu juga
percaya akan keberadaan yang tidak begitu kuat, seperti halnya para dewa.
Hinduisme kontemporer saat ini dibagi menjadi empat pembagian utama yaitu,
Wisnuisme, Syiwaisme, Saktiisme, dan Smartaisme. Seperti halnya Yahudi,
Kristen, dan Muslim yang mempercayai satu Tuhan namun berbeda dalam konsep
Ketuhanan, semua pengikut agama Hindu percaya pada satu Tuhan namun berbeda
dalam konsepnya. Dua bentuk utama dari perbedaan ini adalah antara dua
kepercayaan monoteistik dari Wisnuisme yang menganggap Tuhan adalah Wisnu dan
Syiwaisme, yang memahami Tuhan sebagai Syiwa. Aspek-aspek Tuhan yang lainnya
pada kenyataannya adalah aspek-aspek dari Wisnu atau Syiwa; lihat Smartaisme
untuk informasi lebih lanjut.
Hanya seorang pemeluk Smartaisme tidak akan mengalami masalah untuk
menyembah Syiwa atau Wisnu bersama-sama karena ia memandang berbagai aspek dari
Tuhan menuntun kepada satu Tuhan yang sama. Pandangan Smartalah yang
mendominasi pandangan Hinduisme di Barat. Sebaliknya, seorang pemeluk Wisnuisme
menganggap Wisnu sebagau Tuhan satu-satunya yang sejati, yang layak disembah,
sementara bentuk-bentuk lainnya adalah penampakan yang lebih rendah. Lihat
misalnya, ilustrasi tentang pandangan pemeluk Wisnuisme tentang Wisnu sebagai
Tuhan sejati yang esa di sini.
Dengan demikian, banyak pemeluk Wisnuisme, misalnya, percaya bahwa hanya
Wisnu lah yang dapat menganugerahkan tujuan terakhir manusia, moksa. Lihat
misalnya, di sini. Demikian pula, banyak pemeluk Syiwaisme juga menganut
keyakinan yang sama, seperti yang diilustrasikan pada di sini dan di sini.
Namun, bahkan pemeluk Wisnuisme, seperti orang-orang Hindu lainnya,
mempunyai toleransi terhadap keyakinan-keyakinan yang lain karena Dewa Krisna,
avatar Wisnu, mengatakannya demikian di dalam Gita. Beberapa pandangan
melukiskan pandangan toleran ini:
Krisna berkata: "Dewa atau bentuk apapun yang disembah seorang
percaya, aku akan menguatkan imannya. Namun demikian, hanya Akulah yang
mengaruniakan keinginan mereka." (Gita: 7:21-22)
Kutipan lain di dalam Gita mengatakan:
"O Arjuna, bahkan pemeluk-pemeluk yang menyembah tuhan-tuhan lain yang
lebih rendah, (mis. dewa-dewa) dengan iman, mereka pun menyembah Aku, tetapi
dalam cara yang tidak tepat, karena Akulah yang Maha Tinggi. Hanya akulah yang
menikmati semua ibadah kurban (Seva, Yajna) dan Tuhan sarwa sekalian
alam." (Gita: 9:23)
Bahkan sebuah ayat Weda melukiskan tema toleransi ini. Kitab-kitab Weda
dihormati di dalam Hinduisme, apapun juga alirannya. Misalnya, sebuah nyanyian
Rig Weda yang terkenal menyatakan bahwa: "Kebenaran hanya Satu, meskipun
para bijak mengenalnya dalam berbagai bentuk." Hal ini berlawanan dengan
keyakinan-keyakinan di dalam tradisi-tradisi agama lain, yang mewajibkan
pemeluknya mempercayai Allah hanya dalam satu aspek dan menolak sama sekali
atau meremehkan keyakinan-keyakinan lainnya.
Monoteisme dalam Taoisme
Tao adalah Yang Tertinggi yang tidak dapat didefinisikan dengan bahasa
manusia, sifatnya adalah ketiadaan (nothingness) dan mengandung tuhan-tuhan
yang lainnya. Berbeda dengan monoteisme Timur Tengah, Tao tidak mempunyai sifat-sifat
pribadi seperti kesucian, cinta kasih, dan kebenaran. Hal ini membuat Taoisme
terbebas dari masalah-masalah teodisi.
Langganan:
Postingan (Atom)