Translate

Selasa, 25 Desember 2012

Pengakuan Iman Athanasius



LATINA
ENGLISH
INDONESIA
QUICUMQUE vult salvus esse, ante omnia opus est, ut teneat catholicam fidem:
WHOEVER wishes to be saved must, above all, keep the Catholic faith.
BARANGSIAPA yang ingin diselamatkan, adalah perlu baginya di atas segala-galanya untuk mempercayai iman Katolik
Quam nisi quisque integram inviolatamque servaverit, absque dubio in aeternum peribit.
For unless a person keeps this faith whole and entire, he will undoubtedly be lost forever.
Yang, kecuali setiap orang memelihara secara sempurna dan tidak diganggu gugat, ia pasti akan binasa selama-lamanya.
Fides autem catholica haec est: ut unum Deum in Trinitate, et Trinitatem in unitate veneremur.
This is what the catholic faith teaches: we worship one God in the Trinity and the Trinity in unity.
Tetapi iman Katolik adalah ini, bahwa kami menyembah satu Allah dalam tritunggal, dan tritunggal dalam kesatuan.
Neque confundentes personas, neque substantiam separantes.
Neither confounding the Persons, nor dividing the substance.
Tidak ada percampuran pribadi-pribadi ataupun pemisahan zat.
Alia est enim persona Patris alia Filii, alia Spiritus Sancti:
For there is one person of the Father, another of the Son, another of the Holy Spirit.
Karena pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari Roh Kudus adalah pribadi yang lain.
Sed Patris, et Fili, et Spiritus Sancti una est divinitas, aequalis gloria, coaeterna maiestas.
But the Father and the Son and the Holy Spirit have one divinity, equal glory, and coeternal majesty.
Tetapi dari Bapa, dari Anak, dan dari Roh Kudus ada satu keilahian, kemuliaan yang setara dan kuasa yang berdaulat yang sama kekalnya.
Qualis Pater, talis Filius, talis Spiritus Sanctus.
What the Father is, the Son is, and the Holy Spirit is.
Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.
Increatus Pater, increatus Filius, increatus Spiritus Sanctus.
The Father is uncreated, the Son is uncreated, and the Holy Spirit is uncreated.
Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.
Immensus Pater, immensus Filius, immensus Spiritus Sanctus.
The Father is boundless, the Son is boundless, and the Holy Spirit is boundless.
Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.
Aeternus Pater, aeternus Filius, aeternus Spiritus Sanctus.
The Father is eternal, the Son is eternal, and the Holy Spirit is eternal.
Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.
Et tamen non tres aeterni, sed unus aeternus.
Nevertheless, there are not three eternal beings, but one eternal being.
Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.
Sicut non tres increati, nec tres immensi, sed unus increatus, et unus immensus.
So there are not three uncreated beings, nor three boundless beings, but one uncreated being and one boundless being.
Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.
Similiter omnipotens Pater, omnipotens Filius, omnipotens Spiritus Sanctus.
Likewise, the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Spirit is omnipotent.
Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa.
Et tamen non tres omnipotentes, sed unus omnipotens.
Yet there are not three omnipotent beings, but one omnipotent being.
Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.
Ita Deus Pater, Deus Filius, Deus Spiritus Sanctus.
Thus the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God.
Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.
Et tamen non tres dii, sed unus est Deus.
However, there are not three gods, but one God.
Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.
Ita Dominus Pater, Dominus Filius, Dominus Spiritus Sanctus.
The Father is Lord, the Son is Lord, and the Holy Spirit is Lord.
Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.
Et tamen non tres Domini, sed unus est Dominus.
However, there are not three lords, but one Lord.
Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.
Quia, sicut singillatim unamquamque personam Deum ac Dominum confiteri christiana veritate compellimur: ita tres Deos aut Dominos dicere catholica religione prohibemur.
For as we are obliged by Christian truth to acknowledge every Person singly to be God and Lord, so too are we forbidden by the Catholic religion to say that there are three Gods or Lords.
Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.
Pater a nullo est factus: nec creatus, nec genitus.
The Father was not made, nor created, nor generated by anyone.
Bapa tidak dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.
Filius a Patre solo est: non factus, nec creatus, sed genitus.
The Son is not made, nor created, but begotten by the Father alone.
Anak itu dari Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.
Spiritus Sanctus a Patre et Filio: non factus, nec creatus, nec genitus, sed procedens.
The Holy Spirit is not made, nor created, nor generated, but proceeds from the Father and the Son.
Roh Kudus itu dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi keluar.
Unus ergo Pater, non tres Patres: unus Filius, non tres Filii: unus Spiritus Sanctus, non tres Spiritus Sancti.
There is, then, one Father, not three Fathers; one Son, not three sons; one Holy Spirit, not three holy spirits.
Karena itu ada satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Anak, bukan tiga anak, satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.
Et in hac Trinitate nihil prius aut posterius, nihil maius aut minus: sed totae tres personae coaeternae sibi sunt et coaequales.
In this Trinity, there is nothing before or after, nothing greater or less. The entire three Persons are coeternal and coequal with one another.
Dan dalam tritunggal ini tidak ada yang pertama atau terakhir, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.
Ita ut per omnia, sicut iam supra dictum est, et unitas in Trinitate, et Trinitas in unitate veneranda sit.
So that in all things, as is has been said above, the Unity is to be worshiped in Trinity and the Trinity in Unity.
Tetapi ketiga pribadi yang sama-sama kekal dan setara di antara mereka sendiri; sehingga mereka semua secara keseluruhan, seperti dikatakan di atas, baik kesatuan dalam tritunggal, maupun tritunggal dalam kesatuan, harus disembah.
Qui vult ergo salvus esse, ita de Trinitate sentiat.
He, therefore, who wishes to be saved, must believe thus about the Trinity.
Karena itu, ia yang ingin diselamatkan harus berpikir demikian tentang tritunggal.
Sed necessarium est ad aeternam salutem, ut incarnationem quoque Domini nostri Iesu Christi fideliter credat.
It is also necessary for eternal salvation that he believes steadfastly in the incarnation of our Lord Jesus Christ.
Tetapi adalah perlu untuk keselamatan kekal bahwa ia juga percaya dengan setia inkarnasi dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Est ergo fides recta ut credamus et confiteamur, quia Dominus noster Iesus Christus, Dei Filius, Deus et homo est.
Thus the right faith is that we believe and confess that our Lord Jesus Christ, the Son of God, is both God and man.
Karena itu adalah iman yang benar bahwa kita percaya dan mengaku bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah dan manusia.
Deus est ex substantia Patris ante saecula genitus: et homo est ex substantia matris in saeculo natus.
As God, He was begotten of the substance of the Father before time; as man, He was born in time of the substance of His Mother.
Ia adalah Allah, diperanakkan dari kekekalan dari zat Sang Bapa; manusia, dilahirkan dalam waktu dari zat ibuNya.
Perfectus Deus, perfectus homo: ex anima rationali et humana carne subsistens.
He is perfect God; and He is perfect man, with a rational soul and human flesh.
Allah yang sempurna, manusia yang sempurna, terdiri dari jiwa yang rasionil dan daging manusia.
Aequalis Patri secundum divinitatem: minor Patre secundum humanitatem.
He is equal to the Father in His divinity, but inferior to the Father in His humanity.
Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya.
Qui licet Deus sit et homo, non duo tamen, sed unus est Christus.
Although He is God and man, He is not two, but one Christ.
Yang, sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus.
Unus autem non conversione divinitatis in carnem, sed assumptione humanitatis in Deum.
And He is one, not because His divinity was changed into flesh, but because His humanity was assumed unto God.
Tetapi satu, bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari pengambilan dari kemanusiaanNya ke dalam Allah.
Unus omnino, non confusione substantiae, sed unitate personae.
He is one, not by a mingling of substances, but by unity of person.
Satu, sama sekali bukan karena percampuran zat, tetapi dari kesatuan pribadi.
Nam sicut anima rationalis et caro unus est homo: ita Deus et homo unus est Christus.
As a rational soul and flesh are one man: so God and man are one Christ.
Karena sebagaimana jiwa yang rasionil dan daging adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus.
Qui passus est pro salute nostra: descendit ad inferos: tertia die resurrexit a mortuis.
He died for our salvation, descended into hell, and rose from the dead on the third day.
Yang menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati.
Ascendit ad caelos, sedet ad dexteram Dei Patris omnipotentis: inde venturus est iudicare vivos et mortuos.
He ascended into heaven, sits at the right hand of God the Father almighty. From there He shall come to judge the living and the dead.
Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, darimana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Ad cuius adventum omnes homines resurgere habent cum corporibus suis: et reddituri sunt de factis propriis rationem.
At His coming, all men are to arise with their own bodies; and they are to give an account of their own deeds.
Pada kedatangan siapa semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya, dan akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri.
Et qui bona egerunt, ibunt in vitam aeternam: qui vero mala, in ignem aeternum.
Those who have done good deeds will go into eternal life; those who have done evil will go into the everlasting fire.
Dan mereka yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal.
Haec est fides catholica, quam nisi quisque fideliter firmiterque crediderit, salvus esse non poterit. Amen.
This is the Catholic faith. Everyone must believe it, firmly and steadfastly; otherwise He cannot be saved. Amen.
Inilah iman Katolik yang, kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa diselamatkan. Amin.

Konstitusi Apostolik tentang Misale Romanum baru



KONSTITUSI APOSTOLIK "MISSALE ROMANUM"
Constitutio Apostolica "Missale Romanum"
KONSTITUSI APOSTOLIK
DENGAN INI DIMAKLUMKAN
MISALE ROMAWI YANG DIPUGAR
ATAS AMANAT KONSILI EKUMENIS VATIKAN II
Paulus Uskup,
Hamba Para Hamba Allah
Demi Kenangan Abadi
Missale Romanum yang dimaklumkan oleh pendahulu kami, S. Pius V, pada tahun 1570 untuk melaksanakan dekrit Konsili Trente, oleh semua orang diakui sebagai salah satu dari sekian banyak buah yang manfaatnya tak terperikan, yang dihasilkan oleh Sinode Suci itu bagi seluruh Gereja Kristus. Sebab selama empat abad buku ini tidak hanya dipakai oleh para imam Ritus Romawi sebagai pegangan untuk melaksanakan kurban ekaristis, tetapi juga disebarkan ke seluruh dunia oleh para pewarta Injil. Lagi pula tak terbilang banyaknya orang kudus telah membina hidup rohani dan kesalehan lewat bacaan-bacaan dan doa-doa Missale Romanum, yang sebagian besar disunting oleh S. Gregorius Agung.
Akan tetapi, lama-kelamaan di kalangan umat kristen tumbuh dan berkembang luas suatu minat mendalam untuk mengembangkan liturgi kudus. Oleh pendahulu kami, Pius XII, gejala ini dinilai sebagai tanda nyata dari kehendak Allah, yang dengan penuh kasih memperhatikan dan membimbing manusia zaman sekarang, dan juga sebagai dorongan dari Roh Kudus, yang membawa berkat bagi seluruh Gereja-Nya. Gerakan pembaruan liturgi itu semakin memperjelas kenyataan bahwa rumus-rumus Missale Romanum perlu ditinjau kembali dan disederhanakan. Mengawali usaha ini, pendahulu kami itu menerbitkan Tata Perayaan Malam Paskah yang telah dipugar, kemudian juga Tata Perayaan Pekan Suci yang telah dipugar. Dengan demikian pemugaran ini merupakan bagaikan langkah pertama ke arah penyesuaian Missale Romanum pada cita-rasa baru zaman sekarang.
Konsili Ekumenis Vatikan II baru-baru ini, melalui Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium, telah meletakkan dasar untuk suatu pembaruan menyeluruh atas Missale Romanum. Konstitusi ini menentukan, bahwa pertama-tama "naskah dan tata cara harus diatur sedemikian rupa sehingga mengungkapkan dengan lebih jelas hal-hal kudus yang ditandakannya;" selanjutnya bahwa "Ordo Missae hendaknya ditinjau kembali, agar menjadi lebih jelaslah makna dan hubungan setiap bagiannya satu sama lain, sehingga mempermudah umat beriman berpartisipasi secara khidmat dan aktif"; juga bahwa "khazanah harta Alkitab hendaknya dibuka lebih lebar, agar makanan sabda Allah dihidangkan lebih melimpah kepada umat beriman." Pada akhirnya Konstitusi menentukan bahwa "hendaknya disusun suatu tata cara konselebrasi yang baru, dan disisipkan dalam buku Pontificale Romanum dan buku Missale Romanum.”
Akan tetapi, jangan mengira bahwa pemugaran Missale Romanum itu secara mendadak jatuh dari langit! Kemajuan dalam bidang studi liturgi selama empat abad sebelumnya jelas sudah merintis jalan ke arah pemugaran itu. Tidak lama sesudah Konsili Trente, penelaahan serta penelitian atas "naskah-naskah kuno" yang ditemukan di Perpustakaan Vatikan dan di tempat lain, menurut kesaksian pendahulu kami S. Pius V dalam Konstitusi Apostolik Quo primum, telah memberikan andil yang tidak sedikit bagi pemugaran Missale Romanum. Sejak itu banyak sumber-sumber liturgi kuno ditemukan dan diterbitkan; begitu pula rumus-rumus liturgi Gereja Timur dipelajari lebih mendalam. Banyak orang mengharapkan, agar khazanah ajaran dan harta iman itu tidak dibiarkan terus tersembunyi dalam keremangan lemari-lemari perpustakaan, tetapi dibuka dan dimanfaatkan untuk menerangi dan menghangatkan hati serta budi orang kristen.
Sekarang kami ingin sedikit menguraikan garis besar susunan Missale Romanum. Pertama-tama kami minta perhatian untuk Institutio Generalis yang kami cantumkan sebagai Prooemium (Prakata). Di dalamnya dikemukakan kaidah-kaidah baru untuk merayakan kurban Ekaristi, baik mengenai pelaksanaan perayaannya serta tugas-tugas khusus para pelayan dan para peserta, maupun mengenai perlengkapan dan tempat yang diperlukan untuk kebaktian ilahi.
Unsur pembaruan yang paling menonjol kiranya terletak dalam apa yang kini lazim disebut Prex Eucharistica (Doa Syukur Agung). Dalam Ritus Romawi bagian pertama doa ini, yakni "prefasi", sepanjang sejarah selalu terbuka untuk aneka rumusan, tetapi bagian berikutnya, yang dinamakan Canon, selama kurun waktu abad IV dan V memperoleh bentuk yang tetap. Sebaliknya Liturgi-liturgi Timur selalu mengizinkan adanya variasi tertentu dalam Anafora-anafora itu sendiri. Bertalian dengan ini, pertama-tama Doa Syukur Agung diperkaya dengan banyak rumus prefasi, entah diambil dari tradisi kuno Gereja Romawi entah digubah baru, agar dengan demikian aspek-aspek khusus dari misteri keselamatan dapat ditampakkan dengan lebih jelas, dan agar disajikan alasan-alasan yang lebih banyak dan lebih berlimpah untuk bersyukur. Selain itu, kami menentukan bahwa Kanon Romawi ditambah dengan tiga Doa Syukur Agung baru. Akan tetapi, baik atas pertimbangan pastoral maupun demi kelancaran konselebrasi, kami menetapkan bahwa kisah institusi harus sama dalam semua rumus Doa Syukur Agung. Dari sebab itu, kami menghendaki, agar dalam setiap Doa Syukur Agung, kata-kata itu dirumuskan sebagai berikut: Atas roti: Accipite et manducate ex hoc omnes! Hoc est enim Corpus meum, quod pro vobis tradetur; dan atas piala: Accipite et bibite ex eo omnes! Hic est enim calix sanguinis mei novi et aeterni testamenti, qui pro vobis et pro multis effundentur in remissionem peccatorum. - Hoc facite in meam commemorationem. Sedangkan kata Mysterium fidei dicabut dari konteks kata-kata Kristus Tuhan dan diucapkan imam untuk membuka aklamasi umat.
Sejauh menyangkut Ordo Missae, "tata cara dibuat lebih sederhana dengan tetap mempertahankan hal-hal yang pokok," dengan menghilangkan "pengulangan dan tambahan tidak perlu yang muncul dalam perjalanan sejarah," dalam kaitan dengan tata cara persembahan roti serta anggur dan tata cara pemecahan roti serta komuni.
Selanjutnya, "beberapa hal yang menjadi pudar dikikis waktu dihidupkan kembali selaras dengan kaidah-kaidah semasa para bapa Gereja;” misalnya homili dan doa umat; juga tata cara tobat atau tata cara pendamaian kembali dengan Allah dan sesama saudara, yang dilakukan pada permulaan Ekaristi, kini mendapatkan kembali makna asli sebagaimana mestinya.
Konsili Vatikan II juga menentukan agar "dalam kurun waktu beberapa tahun bagian-bagian penting dari Alkitab dibacakan kepada umat." Oleh karena itu, seluruh khazanah bacaan hari Minggu diatur dalam lingkaran tiga tahun. Kecuali itu, pada setiap hari Minggu dan hari raya pembacaan surat-surat dan Injil didahului dengan satu bacaan lain, yang diambil dari Perjanjian Lama atau - dalam Masa Paskah - dari Kisah Para Rasul. Dengan ini kesinambungan proses dalam sejarah keselamatan menjadi lebih jelas, sebagaimana tampak dalam sabda-sabda yang diwahyukan Allah sendiri. Khazanah bacaan Alkitab yang melimpah ini, yang pada hari Minggu dan hari raya menyajikan bagian-bagian yang paling penting, akan dilengkapi dengan kutipan-kutipan lain dari Alkitab, yang dibawakan pada hari-hari lain.
Semua itu diatur demikian agar dalam hati umat beriman terus-menerus dibangkitkan rasa lapar yang semakin besar akan sabda Allah. Di bawah bimbingan Roh Kudus kiranya kelaparan ini mendorong umat Perjanjian Baru ke arah persatuan sempurna Gereja. Dengan demikian kami sungguh yakin, bahwa para imam dan umat akan dapat menyiapkan hatinya dengan lebih baik untuk merayakan perjamuan Tuhan, dan dengan merenungkan Alkitab secara mendalam, mereka sekaligus makin dikuatkan oleh sabda Allah. Kesimpulannya ialah: Sesuai dengan anjuran Konsili Vatikan II semua orang akan mengakui Alkitab sebagai sumber abadi kehidupan rohani, sebagai dasar semua pengajaran kristiani, dan sebagai intisari segala penelaahan teologis.
Pemugaran Missale Romanum tidak terbatas pada ketiga bagian yang sudah kami sebut di atas, yakni Doa Syukur Agung, Tata Perayaan Ekaristi, dan Tata Bacaan Misa. Bagian-bagian lain pun telah ditinjau kembali dan banyak diubah, yakni Rumus untuk Hari-hari Minggu dan Hari Biasa, Rumus Khusus Para Kudus, Rumus Umum Para Kudus, rumus Misa Ritual, dan rumus yang lazim disebut Misa Votif. Dalam hal ini diberi perhatian khusus pada rumus-rumus doa; jumlahnya menjadi lebih banyak, supaya lebih tepat menanggapi keperluan baru zaman sekarang, dan doa-doa kuno yang telah ditelaah secara kritis dipulihkan seturut jiwa aslinya. Dengan demikian, masing-masing hari biasa dalam masa-masa liturgi utama, yakni Masa Adven, Natal, Prapaskah, dan Paskah, kini dilengkapi dengan rumus-rumus doa sendiri.
Tinggal Graduale Romanum, yang teksnya tidak mengalami perubahan, sekurang-kurangnya sejauh menyangkut lagunya. Namun dalam rangka menyajikan naskah yang lebih mudah dipahami, mazmur tanggapan (yang sering disinggung oleh S. Agustinus dan S. Leo Agung) telah dipugar; demikian pula 'antifon pembuka' dan 'antifon komuni' telah dipugar, supaya lebih mudah dapat digunakan dalam Misa tanpa nyanyian.
Akhir kata, dari semua yang sudah kami beberkan mengenai Missale Romanum, kami ingin menggarisbawahi satu hal ini: Ketika pendahulu kami, S. Pius V, memaklumkan edisi perdana Missale Romanum, ia menampilkannya kepada umat kristen sebagai sarana kesatuan liturgis dan tugu peringatan yang mengungkapkan kebaktian yang tulus dan khidmat dalam Gereja. Begitu pula kami! Walaupun kami, seturut ketentuan Konsili Vatikan II, membenarkan "perubahan dan penyesuaian yang wajar" terhadap Missale baru, namun harapan kami tidaklah berbeda, yakni agar Missale ini disambut oleh umat beriman sebagai bantuan untuk membuktikan dan mengukuhkan persekutuan mereka satu sama lain. Semoga dengan Missale ini, dalam keanekaan sekian banyak bahasa, semua memanjatkan doa yang sama kepada Bapa surgawi, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Imam Agung kita, dalam Roh Kudus: doa yang melebihi harumnya dupa mana pun.
Kami menghendaki bahwa ketentuan dan ketetapan-ketetapan ini diberlakukan secara mantap dan efektif sekarang dan pada masa yang akan datang, tanpa terhalang oleh konstitusi dan ketetapan apostolik yang dimaklumkan oleh para pendahulu kami - sejauh ada yang nadanya berbeda - atau oleh ketentuan lain mana pun, termasuk yang selayaknya disebut dan dicabut secara eksplisit.
Roma, 3 April 1969
Hari Raya Kamis Putih
Paulus VI

Doa Leonin

DOA LEONIN

Pada tahun 1961 saat gereja Katolik menggunakan Missale Romanum Pra-Konsili Vatikan, doa leonin dibawakan setelah misa harian.

Sacerdos: Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus et benedictus fructis
ventris tui, Jesus.
Omnes: Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen.
Sacerdos: Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus et benedictus fructis
ventris tui, Jesus.
Omnes: Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen.
Sacerdos: Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus et benedictus fructis
ventris tui, Jesus.
Omnes: Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen.
Omnes: Salve Regina, Mater misericordiae, vita, dulcedo, et spes nostra, salve. Ad te clamamus, exsules
filii Evae. Ad te suspiramus gementes et fientes in hac lacrymarum valle. Eia ergo, Advocata nostra, illos
tuos misericordes oculos ad nos converte. Et Jesum, benedictum fructum ventris tui, nobis, post hoc
exilium, ostende. O clemens, o pia, o dulcis Virgo Maria. Ora pro nobis, sancta Dei Genitrix. Ut digni efficiamur promissionibus Christi.
Sacerdos: Oremus. Deus, refugium nostrum et virtus, populum ad te clamantem propitius respice; et
intercedente gloriosa, et immaculata Virgine Dei Genitrice Maria, cum beato Joseph, ejus Sponso, ac
beatis Apostolis tuis Petro et Paulo, et omnibus Sanctis, quas pro conversione peccatorum, pro libertate
et exaltatione sanctae Matris Ecclesiae, preces effundimus, misericors et benignus exaudi. Per eundum
Christum Dominum nostrum. Omnes: Amen.
Omnes: Sancte Michael Archangele, defende nos in proelio; contra nequitiam et insidias diaboli esto
praesidium. Imperet illi Deus, supplices deprecamur: tuque, Princeps militiae Caelestis, satanam aliosque
spiritus malignos, qui ad perditionem animarum pervagantur in mundo, divina virtute in infernum
detrude. Amen.
Sacerdos: Cor Jesu sacratissimum.
Omnes: Miserere nobis.
Sacerdos: Cor Jesu sacratissimum.
Omnes: Miserere nobis.
Sacerdos: Cor Jesu sacratissimum.
Omnes: Miserere nobis.

*Sacerdos= Imam
Omnes= semua (Umat)

POLA PIKIR MASYARAKAT MAJEMUK



POLA PIKIR MASYARAKAT MAJEMUK

            Pola pikir merupakan unsur utama dalam sistem kemasyarakatan yang memiliki budaya yang cukup berkembang dengan baik, setiap orang mempunyai anggapan atau pendapat yang berbeda dengan orang lain mengenai suatu hal.  Namun dari pola pikir inilah kebudayaan suatu masyarakat dibentuk dan berkembang. Pada prinsipnya dalam masyarakat majemuk cenderung mempunyai pola pikir yang relative sama, terlebih di daerah perkotaan, memiliki motivasi hanya untuk diri sendiri (ego), dan kurang memperhatikan orang lain, lalu sikap merekapun cenderung menanggapi segala sesuatu dengan kritis tanpa adanya proses berpikir matang-matang.

            Berbeda dengan orang yang ada di daerah pedesaan. Mereka cenderung bergotong royong, dan kekeluargaan, berbeda dengan orang kota, orang di desa lebih memiliki motivasi untuk kebersamaan, dan senang membantu orang lain. Mereka pula lebih cenderung menanggapi berbagai persoalan dengan tenang dan menyelesaikan permasalahan dengan jalan kekeluargaan, mereka akan senantiasa mencari Medio tutissimus ibis {jalan tengah yang terbaik}.

            Orang yang sudah memiliki pola pikir yang terlanjur kaku akan senantiasa mudah terprofikasi, namun hal itu dapat diminimalisir dengan mengubah pola pikir yang lebih terbuka dengan situasi dan kondisi real yang ada dalam masyarakat. Pola pikir yang cenderung terprofokasi sering ditemui di daerah kota ketimbang desa, hal itu terlihat jelas bahwa dalam kehidupan politik banyak orang yang terprofokasi dan yang bertindak sebagai profokator.

            Kemajemukan masyarakat mengakibatkan Disharmonis SARA yang mengakibatkan pecahnya rasa persatuan dan kesatuan. Suku melawan suku, agama melawan agama dan lebih parah lagi bahwa Homo homini lupus (manusia adalah serigala untuk manusia lain [Thomas Hobbes]) sungguh suatu hal yang sangat menakutkan untuk dibayangkan.

PIKIRAN FUNDAMENTAL dan RADIKALISME



PIKIRAN FUNDAMENTAL dan RADIKALISME
Oleh: Anta Ramadhan
            Fundamental dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti pokok atau mendasar. Fundamentalisme adalah suatu paham untuk memperjuangkan sesuatu dengan cara cenderung radikal atau keras.
            Kecenderungan ini akan senantiasa muncul ketika seseorang mendukung atau menjalankan suatu paham yang dianggapnya benar, seperti halnya pada agama, pandangan politik dan sistem pemerintahan. Kita akan membahas dari perspektif theologi atau agama. Dalam bidang agama fundamental sering sekali berhubungan dengan pengakuan iman (credo), kitab Suci dan ajaran yang membentuk agama itu sendiri. Pada dasarnya setiap orang yang memeluk agama akan mengatakan bahwa agamanyalah yang paling baik dan benar, dan cenderung menganggap bahwa agama lain “salah” sehingga menimbulkan kesan pembedaan agama yang bersifat etnosentris yang dapat mengarah kepada sifat fasisme yaitu otoriter.
            Dalam kehidupan beragama paham fundamentalisme akan senantiasa dijalankan oleh kebanyakan orang yang fanatik. Orang yang memiliki padangan Fanatik ini secara tidak langsung (dan tanpa disadari) akan memiliki sifat etnosentris, dan cenderung radikal untuk mempertahankan apa yang dipahaminya. Orang yang semacam ini akan sangat mudah untuk diprofokasi, dan akan sangat mudah tersulut isu SARA. Bandingkan dengan artikel “pola pikir masyarakat Majemuk” rata-rata orang yang memiliki pandangan fanatik yang ekstrem akan senantiasa terprofokasi terutama dalam isu SARA.
            Radikalisme adalah sikap egois yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok untuk mempertahankan paham yang di anut, bukan saja pada hal agama, tetapi juga dalam bidang politik dan sistem pemerintahan (KBBI). Sifat ini dapat dihilangkan dengan banyak cara, namun yang paling utama adalah menyingkirkan sikap egois dalam toleransi, dan lebih bersikap tenang dalam menghadapi setiap isu yang beredar. Fundamentalisme dalam kehidupan sehari-hari memang tidak dapat dihindarkan namun sifat radikal dari fundamentalis tersebut dapat dihilangkan dengan cara di atas.
            Namun ada kalanya sikap fundamentalisme itu akan berdampak positif terutama dalam sistem idiologi negara, misalkan idiologi Pancasilais, adalah dasar negara kita sehingga sikap fundamentalisme itu akan sangat bermanfaat terutama dalam mendukung paham Pancasilais dan memupuk rasa nasionalisme yang semakin mendalam, dimana ketika dasar negara kita di “Hujat” oleh orang lain, kita bereaksi keras untuk mendukung hal itu, tapi tetap fundamentalisme memiliki sifat negatif juga seperti yang sudah dijabarkan di atas.
            Marilah kita sikapi segala sesuatu dengan bijak dan penuh kehati-hatian, bersabar dalam menghadapi berbagai polemik, dan menerima segala sesuatu dengan lapang dada, dan tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
Golden Ways: “Kekerasan bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah, kekerasan hanya menambah parah masalah yang ada. Kebijaksanaan adalah jalan menuju perdamaian, selesaikanlah masalah dengan kepala dingin tanpa emosi serta egois yang tinggi.”