LATINA
|
ENGLISH
|
INDONESIA
|
QUICUMQUE vult salvus esse, ante omnia opus est, ut teneat catholicam
fidem:
|
WHOEVER wishes to be saved must, above all, keep the Catholic faith.
|
BARANGSIAPA yang ingin diselamatkan, adalah perlu baginya di atas segala-galanya
untuk mempercayai iman Katolik
|
Quam
nisi quisque integram inviolatamque servaverit, absque dubio in aeternum
peribit.
|
For
unless a person keeps this faith whole and entire, he will undoubtedly be
lost forever.
|
Yang, kecuali
setiap orang memelihara secara sempurna dan tidak diganggu gugat, ia pasti
akan binasa selama-lamanya.
|
Fides
autem catholica haec est: ut unum Deum in Trinitate, et Trinitatem in unitate
veneremur.
|
This
is what the catholic faith teaches: we worship one God in the Trinity and the
Trinity in unity.
|
Tetapi iman
Katolik adalah ini, bahwa kami menyembah satu Allah dalam tritunggal, dan
tritunggal dalam kesatuan.
|
Neque
confundentes personas, neque substantiam separantes.
|
Neither
confounding the Persons, nor dividing the substance.
|
Tidak ada
percampuran pribadi-pribadi ataupun pemisahan zat.
|
Alia
est enim persona Patris alia Filii, alia Spiritus Sancti:
|
For
there is one person of the Father, another of the Son, another of the Holy
Spirit.
|
Karena
pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari
Roh Kudus adalah pribadi yang lain.
|
Sed
Patris, et Fili, et Spiritus Sancti una est divinitas, aequalis gloria,
coaeterna maiestas.
|
But
the Father and the Son and the Holy Spirit have one divinity, equal glory,
and coeternal majesty.
|
Tetapi dari
Bapa, dari Anak, dan dari Roh Kudus ada satu keilahian, kemuliaan yang setara
dan kuasa yang berdaulat yang sama kekalnya.
|
Qualis
Pater, talis Filius, talis Spiritus Sanctus.
|
What
the Father is, the Son is, and the Holy Spirit is.
|
Apa adanya
Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.
|
Increatus
Pater, increatus Filius, increatus Spiritus Sanctus.
|
The
Father is uncreated, the Son is uncreated, and the Holy Spirit is uncreated.
|
Bapa tidak
diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.
|
Immensus
Pater, immensus Filius, immensus Spiritus Sanctus.
|
The
Father is boundless, the Son is boundless, and the Holy Spirit is boundless.
|
Bapa itu maha
besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.
|
Aeternus
Pater, aeternus Filius, aeternus Spiritus Sanctus.
|
The
Father is eternal, the Son is eternal, and the Holy Spirit is eternal.
|
Bapa itu
kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.
|
Et
tamen non tres aeterni, sed unus aeternus.
|
Nevertheless,
there are not three eternal beings, but one eternal being.
|
Tetapi tidak
ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.
|
Sicut
non tres increati, nec tres immensi, sed unus increatus, et unus immensus.
|
So
there are not three uncreated beings, nor three boundless beings, but one
uncreated being and one boundless being.
|
Demikian juga
tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar,
tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.
|
Similiter
omnipotens Pater, omnipotens Filius, omnipotens Spiritus Sanctus.
|
Likewise,
the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Spirit is
omnipotent.
|
Dengan cara
yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah
maha kuasa.
|
Et
tamen non tres omnipotentes, sed unus omnipotens.
|
Yet
there are not three omnipotent beings, but one omnipotent being.
|
Tetapi tidak
ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.
|
Ita
Deus Pater, Deus Filius, Deus Spiritus Sanctus.
|
Thus
the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God.
|
Demikian juga
Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.
|
Et
tamen non tres dii, sed unus est Deus.
|
However,
there are not three gods, but one God.
|
Tetapi tidak
ada tiga Allah, tetapi satu Allah.
|
Ita
Dominus Pater, Dominus Filius, Dominus Spiritus Sanctus.
|
The
Father is Lord, the Son is Lord, and the Holy Spirit is Lord.
|
Demikian pula
Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.
|
Et
tamen non tres Domini, sed unus est Dominus.
|
However,
there are not three lords, but one Lord.
|
Tetapi tidak
ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.
|
Quia,
sicut singillatim unamquamque personam Deum ac Dominum confiteri christiana
veritate compellimur: ita tres Deos aut Dominos dicere catholica religione
prohibemur.
|
For
as we are obliged by Christian truth to acknowledge every Person singly to be
God and Lord, so too are we forbidden by the Catholic religion to say that
there are three Gods or Lords.
|
Karena
sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui
setiap pribadi secara terpisah sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami
dilarang oleh agama Katolik untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.
|
Pater
a nullo est factus: nec creatus, nec genitus.
|
The
Father was not made, nor created, nor generated by anyone.
|
Bapa tidak
dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.
|
Filius
a Patre solo est: non factus, nec creatus, sed genitus.
|
The
Son is not made, nor created, but begotten by the Father alone.
|
Anak itu dari
Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.
|
Spiritus
Sanctus a Patre et Filio: non factus, nec creatus, nec genitus, sed
procedens.
|
The
Holy Spirit is not made, nor created, nor generated, but proceeds from the
Father and the Son.
|
Roh Kudus itu
dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi
keluar.
|
Unus
ergo Pater, non tres Patres: unus Filius, non tres Filii: unus Spiritus
Sanctus, non tres Spiritus Sancti.
|
There
is, then, one Father, not three Fathers; one Son, not three sons; one Holy
Spirit, not three holy spirits.
|
Karena itu
ada satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Anak, bukan tiga anak, satu Roh Kudus,
bukan tiga Roh Kudus.
|
Et
in hac Trinitate nihil prius aut posterius, nihil maius aut minus: sed totae
tres personae coaeternae sibi sunt et coaequales.
|
In
this Trinity, there is nothing before or after, nothing greater or less. The
entire three Persons are coeternal and coequal with one another.
|
Dan dalam
tritunggal ini tidak ada yang pertama atau terakhir, tidak ada yang lebih
besar atau lebih kecil.
|
Ita
ut per omnia, sicut iam supra dictum est, et unitas in Trinitate, et Trinitas
in unitate veneranda sit.
|
So
that in all things, as is has been said above, the Unity is to be worshiped
in Trinity and the Trinity in Unity.
|
Tetapi ketiga
pribadi yang sama-sama kekal dan setara di antara mereka sendiri; sehingga
mereka semua secara keseluruhan, seperti dikatakan di atas, baik kesatuan
dalam tritunggal, maupun tritunggal dalam kesatuan, harus disembah.
|
Qui
vult ergo salvus esse, ita de Trinitate sentiat.
|
He,
therefore, who wishes to be saved, must believe thus about the Trinity.
|
Karena itu, ia yang ingin diselamatkan harus
berpikir demikian tentang tritunggal.
|
Sed
necessarium est ad aeternam salutem, ut incarnationem quoque Domini nostri
Iesu Christi fideliter credat.
|
It
is also necessary for eternal salvation that he believes steadfastly in the
incarnation of our Lord Jesus Christ.
|
Tetapi adalah
perlu untuk keselamatan kekal bahwa ia juga percaya dengan setia inkarnasi
dari Tuhan kita Yesus Kristus.
|
Est
ergo fides recta ut credamus et confiteamur, quia Dominus noster Iesus
Christus, Dei Filius, Deus et homo est.
|
Thus
the right faith is that we believe and confess that our Lord Jesus Christ,
the Son of God, is both God and man.
|
Karena itu
adalah iman yang benar bahwa kita percaya dan mengaku bahwa Tuhan kita Yesus
Kristus adalah Allah dan manusia.
|
Deus
est ex substantia Patris ante saecula genitus: et homo est ex substantia
matris in saeculo natus.
|
As
God, He was begotten of the substance of the Father before time; as man, He
was born in time of the substance of His Mother.
|
Ia adalah
Allah, diperanakkan dari kekekalan dari zat Sang Bapa; manusia, dilahirkan
dalam waktu dari zat ibuNya.
|
Perfectus
Deus, perfectus homo: ex anima rationali et humana carne subsistens.
|
He
is perfect God; and He is perfect man, with a rational soul and human flesh.
|
Allah yang
sempurna, manusia yang sempurna, terdiri dari jiwa yang rasionil dan daging
manusia.
|
Aequalis
Patri secundum divinitatem: minor Patre secundum humanitatem.
|
He
is equal to the Father in His divinity, but inferior to the Father in His
humanity.
|
Setara dengan
Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal
kemanusiaanNya.
|
Qui
licet Deus sit et homo, non duo tamen, sed unus est Christus.
|
Although
He is God and man, He is not two, but one Christ.
|
Yang,
sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus.
|
Unus
autem non conversione divinitatis in carnem, sed assumptione humanitatis in
Deum.
|
And
He is one, not because His divinity was changed into flesh, but because His
humanity was assumed unto God.
|
Tetapi satu,
bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari
pengambilan dari kemanusiaanNya ke dalam Allah.
|
Unus
omnino, non confusione substantiae, sed unitate personae.
|
He
is one, not by a mingling of substances, but by unity of person.
|
Satu, sama
sekali bukan karena percampuran zat, tetapi dari kesatuan pribadi.
|
Nam
sicut anima rationalis et caro unus est homo: ita Deus et homo unus est
Christus.
|
As
a rational soul and flesh are one man: so God and man are one Christ.
|
Karena
sebagaimana jiwa yang rasionil dan daging adalah satu manusia, demikian juga
Allah dan manusia adalah satu Kristus.
|
Qui
passus est pro salute nostra: descendit ad inferos: tertia die resurrexit a
mortuis.
|
He
died for our salvation, descended into hell, and rose from the dead on the
third day.
|
Yang
menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit
dari antara orang mati.
|
Ascendit
ad caelos, sedet ad dexteram Dei Patris omnipotentis: inde venturus est
iudicare vivos et mortuos.
|
He
ascended into heaven, sits at the right hand of God the Father almighty. From
there He shall come to judge the living and the dead.
|
Naik ke
surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, darimana Ia akan
datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
|
Ad
cuius adventum omnes homines resurgere habent cum corporibus suis: et
reddituri sunt de factis propriis rationem.
|
At
His coming, all men are to arise with their own bodies; and they are to give
an account of their own deeds.
|
Pada
kedatangan siapa semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya, dan akan
mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri.
|
Et
qui bona egerunt, ibunt in vitam aeternam: qui vero mala, in ignem aeternum.
|
Those
who have done good deeds will go into eternal life; those who have done evil
will go into the everlasting fire.
|
Dan mereka
yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang
telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal.
|
Haec
est fides catholica, quam nisi quisque fideliter firmiterque crediderit,
salvus esse non poterit. Amen.
|
This
is the Catholic faith. Everyone must believe it, firmly and steadfastly;
otherwise He cannot be saved. Amen.
|
Inilah iman
Katolik yang, kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa
diselamatkan. Amin.
|
Translate
Selasa, 25 Desember 2012
Pengakuan Iman Athanasius
Konstitusi Apostolik tentang Misale Romanum baru
KONSTITUSI APOSTOLIK "MISSALE
ROMANUM"
KONSTITUSI APOSTOLIK
DENGAN INI DIMAKLUMKAN
MISALE ROMAWI YANG DIPUGAR
ATAS AMANAT KONSILI EKUMENIS VATIKAN II
Paulus Uskup,
Hamba Para Hamba Allah
Demi Kenangan Abadi
Missale Romanum yang
dimaklumkan oleh pendahulu kami, S. Pius V, pada tahun 1570 untuk melaksanakan
dekrit Konsili Trente, oleh semua orang diakui sebagai salah satu dari sekian
banyak buah yang manfaatnya tak terperikan, yang dihasilkan oleh Sinode Suci
itu bagi seluruh Gereja Kristus. Sebab selama empat abad buku ini tidak hanya
dipakai oleh para imam Ritus Romawi sebagai pegangan untuk melaksanakan kurban
ekaristis, tetapi juga disebarkan ke seluruh dunia oleh para pewarta Injil.
Lagi pula tak terbilang banyaknya orang kudus telah membina hidup rohani dan
kesalehan lewat bacaan-bacaan dan doa-doa Missale Romanum, yang sebagian
besar disunting oleh S. Gregorius Agung.
Akan tetapi, lama-kelamaan di kalangan umat kristen tumbuh dan
berkembang luas suatu minat mendalam untuk mengembangkan liturgi kudus. Oleh
pendahulu kami, Pius XII, gejala ini dinilai sebagai tanda nyata dari kehendak
Allah, yang dengan penuh kasih memperhatikan dan membimbing manusia zaman
sekarang, dan juga sebagai dorongan dari Roh Kudus, yang membawa berkat bagi
seluruh Gereja-Nya. Gerakan pembaruan liturgi itu semakin memperjelas kenyataan
bahwa rumus-rumus Missale Romanum perlu ditinjau kembali dan
disederhanakan. Mengawali usaha ini, pendahulu kami itu menerbitkan Tata
Perayaan Malam Paskah yang telah dipugar, kemudian juga Tata Perayaan Pekan
Suci yang telah dipugar. Dengan demikian pemugaran ini merupakan bagaikan
langkah pertama ke arah penyesuaian Missale Romanum pada cita-rasa baru
zaman sekarang.
Konsili Ekumenis Vatikan II baru-baru ini, melalui Konstitusi
Liturgi Sacrosanctum Concilium, telah meletakkan dasar untuk suatu
pembaruan menyeluruh atas Missale Romanum. Konstitusi ini menentukan,
bahwa pertama-tama "naskah dan tata cara harus diatur sedemikian rupa
sehingga mengungkapkan dengan lebih jelas hal-hal kudus yang
ditandakannya;" selanjutnya bahwa "Ordo Missae hendaknya
ditinjau kembali, agar menjadi lebih jelaslah makna dan hubungan setiap
bagiannya satu sama lain, sehingga mempermudah umat beriman berpartisipasi
secara khidmat dan aktif"; juga bahwa "khazanah harta Alkitab
hendaknya dibuka lebih lebar, agar makanan sabda Allah dihidangkan lebih
melimpah kepada umat beriman." Pada akhirnya Konstitusi menentukan bahwa
"hendaknya disusun suatu tata cara konselebrasi yang baru, dan disisipkan
dalam buku Pontificale Romanum dan buku Missale Romanum.”
Akan tetapi, jangan mengira bahwa pemugaran Missale Romanum
itu secara mendadak jatuh dari langit! Kemajuan dalam bidang studi liturgi
selama empat abad sebelumnya jelas sudah merintis jalan ke arah pemugaran itu.
Tidak lama sesudah Konsili Trente, penelaahan serta penelitian atas
"naskah-naskah kuno" yang ditemukan di Perpustakaan Vatikan dan di
tempat lain, menurut kesaksian pendahulu kami S. Pius V dalam Konstitusi
Apostolik Quo primum, telah memberikan andil yang tidak sedikit bagi
pemugaran Missale Romanum. Sejak itu banyak sumber-sumber liturgi kuno
ditemukan dan diterbitkan; begitu pula rumus-rumus liturgi Gereja Timur
dipelajari lebih mendalam. Banyak orang mengharapkan, agar khazanah ajaran dan
harta iman itu tidak dibiarkan terus tersembunyi dalam keremangan lemari-lemari
perpustakaan, tetapi dibuka dan dimanfaatkan untuk menerangi dan menghangatkan
hati serta budi orang kristen.
Sekarang kami ingin sedikit menguraikan garis besar susunan Missale
Romanum. Pertama-tama kami minta perhatian untuk Institutio Generalis
yang kami cantumkan sebagai Prooemium (Prakata). Di dalamnya dikemukakan
kaidah-kaidah baru untuk merayakan kurban Ekaristi, baik mengenai pelaksanaan
perayaannya serta tugas-tugas khusus para pelayan dan para peserta, maupun
mengenai perlengkapan dan tempat yang diperlukan untuk kebaktian ilahi.
Unsur pembaruan yang paling menonjol kiranya terletak dalam apa
yang kini lazim disebut Prex Eucharistica (Doa Syukur Agung). Dalam
Ritus Romawi bagian pertama doa ini, yakni "prefasi", sepanjang
sejarah selalu terbuka untuk aneka rumusan, tetapi bagian berikutnya, yang
dinamakan Canon, selama kurun waktu abad IV dan V memperoleh bentuk yang
tetap. Sebaliknya Liturgi-liturgi Timur selalu mengizinkan adanya variasi
tertentu dalam Anafora-anafora itu sendiri. Bertalian dengan ini,
pertama-tama Doa Syukur Agung diperkaya dengan banyak rumus prefasi, entah
diambil dari tradisi kuno Gereja Romawi entah digubah baru, agar dengan
demikian aspek-aspek khusus dari misteri keselamatan dapat ditampakkan dengan
lebih jelas, dan agar disajikan alasan-alasan yang lebih banyak dan lebih
berlimpah untuk bersyukur. Selain itu, kami menentukan bahwa Kanon Romawi
ditambah dengan tiga Doa Syukur Agung baru. Akan tetapi, baik atas pertimbangan
pastoral maupun demi kelancaran konselebrasi, kami menetapkan bahwa kisah
institusi harus sama dalam semua rumus Doa Syukur Agung. Dari sebab itu, kami
menghendaki, agar dalam setiap Doa Syukur Agung, kata-kata itu dirumuskan sebagai
berikut: Atas roti: Accipite et manducate ex hoc omnes! Hoc est enim Corpus
meum, quod pro vobis tradetur; dan atas piala: Accipite et bibite ex eo
omnes! Hic est enim calix sanguinis mei novi et aeterni testamenti, qui pro
vobis et pro multis effundentur in remissionem peccatorum. - Hoc facite in meam
commemorationem. Sedangkan kata Mysterium fidei dicabut dari konteks
kata-kata Kristus Tuhan dan diucapkan imam untuk membuka aklamasi umat.
Sejauh menyangkut Ordo Missae, "tata cara dibuat lebih sederhana
dengan tetap mempertahankan hal-hal yang pokok," dengan menghilangkan
"pengulangan dan tambahan tidak perlu yang muncul dalam perjalanan
sejarah," dalam kaitan dengan tata cara persembahan roti serta anggur dan
tata cara pemecahan roti serta komuni.
Selanjutnya, "beberapa hal yang menjadi pudar dikikis waktu
dihidupkan kembali selaras dengan kaidah-kaidah semasa para bapa Gereja;”
misalnya homili dan doa umat; juga tata cara tobat atau tata cara pendamaian
kembali dengan Allah dan sesama saudara, yang dilakukan pada permulaan
Ekaristi, kini mendapatkan kembali makna asli sebagaimana mestinya.
Konsili Vatikan II juga menentukan agar "dalam kurun waktu
beberapa tahun bagian-bagian penting dari Alkitab dibacakan kepada umat."
Oleh karena itu, seluruh khazanah bacaan hari Minggu diatur dalam lingkaran
tiga tahun. Kecuali itu, pada setiap hari Minggu dan hari raya pembacaan
surat-surat dan Injil didahului dengan satu bacaan lain, yang diambil dari
Perjanjian Lama atau - dalam Masa Paskah - dari Kisah Para Rasul. Dengan ini
kesinambungan proses dalam sejarah keselamatan menjadi lebih jelas, sebagaimana
tampak dalam sabda-sabda yang diwahyukan Allah sendiri. Khazanah bacaan Alkitab
yang melimpah ini, yang pada hari Minggu dan hari raya menyajikan bagian-bagian
yang paling penting, akan dilengkapi dengan kutipan-kutipan lain dari Alkitab,
yang dibawakan pada hari-hari lain.
Semua itu diatur demikian agar dalam hati umat beriman
terus-menerus dibangkitkan rasa lapar yang semakin besar akan sabda Allah. Di
bawah bimbingan Roh Kudus kiranya kelaparan ini mendorong umat Perjanjian Baru
ke arah persatuan sempurna Gereja. Dengan demikian kami sungguh yakin, bahwa
para imam dan umat akan dapat menyiapkan hatinya dengan lebih baik untuk
merayakan perjamuan Tuhan, dan dengan merenungkan Alkitab secara mendalam,
mereka sekaligus makin dikuatkan oleh sabda Allah. Kesimpulannya ialah: Sesuai
dengan anjuran Konsili Vatikan II semua orang akan mengakui Alkitab sebagai
sumber abadi kehidupan rohani, sebagai dasar semua pengajaran kristiani, dan
sebagai intisari segala penelaahan teologis.
Pemugaran Missale Romanum tidak terbatas pada ketiga bagian
yang sudah kami sebut di atas, yakni Doa Syukur Agung, Tata Perayaan Ekaristi,
dan Tata Bacaan Misa. Bagian-bagian lain pun telah ditinjau kembali dan banyak
diubah, yakni Rumus untuk Hari-hari Minggu dan Hari Biasa, Rumus Khusus Para
Kudus, Rumus Umum Para Kudus, rumus Misa Ritual, dan rumus yang lazim disebut
Misa Votif. Dalam hal ini diberi perhatian khusus pada rumus-rumus doa; jumlahnya
menjadi lebih banyak, supaya lebih tepat menanggapi keperluan baru zaman
sekarang, dan doa-doa kuno yang telah ditelaah secara kritis dipulihkan seturut
jiwa aslinya. Dengan demikian, masing-masing hari biasa dalam masa-masa liturgi
utama, yakni Masa Adven, Natal, Prapaskah, dan Paskah, kini dilengkapi dengan
rumus-rumus doa sendiri.
Tinggal Graduale Romanum, yang teksnya tidak mengalami
perubahan, sekurang-kurangnya sejauh menyangkut lagunya. Namun dalam rangka
menyajikan naskah yang lebih mudah dipahami, mazmur tanggapan (yang sering
disinggung oleh S. Agustinus dan S. Leo Agung) telah dipugar; demikian pula
'antifon pembuka' dan 'antifon komuni' telah dipugar, supaya lebih mudah dapat
digunakan dalam Misa tanpa nyanyian.
Akhir kata, dari semua yang sudah kami beberkan mengenai Missale
Romanum, kami ingin menggarisbawahi satu hal ini: Ketika pendahulu kami, S.
Pius V, memaklumkan edisi perdana Missale Romanum, ia menampilkannya
kepada umat kristen sebagai sarana kesatuan liturgis dan tugu peringatan yang
mengungkapkan kebaktian yang tulus dan khidmat dalam Gereja. Begitu pula kami!
Walaupun kami, seturut ketentuan Konsili Vatikan II, membenarkan
"perubahan dan penyesuaian yang wajar" terhadap Missale baru,
namun harapan kami tidaklah berbeda, yakni agar Missale ini disambut
oleh umat beriman sebagai bantuan untuk membuktikan dan mengukuhkan persekutuan
mereka satu sama lain. Semoga dengan Missale ini, dalam keanekaan sekian
banyak bahasa, semua memanjatkan doa yang sama kepada Bapa surgawi, dengan pengantaraan
Yesus Kristus, Imam Agung kita, dalam Roh Kudus: doa yang melebihi harumnya
dupa mana pun.
Kami menghendaki bahwa ketentuan dan ketetapan-ketetapan ini
diberlakukan secara mantap dan efektif sekarang dan pada masa yang akan datang,
tanpa terhalang oleh konstitusi dan ketetapan apostolik yang dimaklumkan oleh
para pendahulu kami - sejauh ada yang nadanya berbeda - atau oleh ketentuan
lain mana pun, termasuk yang selayaknya disebut dan dicabut secara eksplisit.
Roma, 3 April 1969
Hari Raya Kamis Putih
Paulus VI
Doa Leonin
DOA LEONIN
Pada tahun 1961 saat gereja Katolik menggunakan Missale Romanum Pra-Konsili Vatikan, doa leonin dibawakan setelah misa harian.Sacerdos: Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus et benedictus fructis
ventris tui, Jesus.
Omnes: Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen.
Sacerdos: Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus et benedictus fructis
ventris tui, Jesus.
Omnes: Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen.
Sacerdos: Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum, benedicta tu in mulieribus et benedictus fructis
ventris tui, Jesus.
Omnes: Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen.
Omnes: Salve Regina, Mater misericordiae, vita, dulcedo, et spes nostra, salve. Ad te clamamus, exsules
filii Evae. Ad te suspiramus gementes et fientes in hac lacrymarum valle. Eia ergo, Advocata nostra, illos
tuos misericordes oculos ad nos converte. Et Jesum, benedictum fructum ventris tui, nobis, post hoc
exilium, ostende. O clemens, o pia, o dulcis Virgo Maria. Ora pro nobis, sancta Dei Genitrix. Ut digni efficiamur promissionibus Christi.
Sacerdos: Oremus. Deus, refugium nostrum et virtus, populum ad te clamantem propitius respice; et
intercedente gloriosa, et immaculata Virgine Dei Genitrice Maria, cum beato Joseph, ejus Sponso, ac
beatis Apostolis tuis Petro et Paulo, et omnibus Sanctis, quas pro conversione peccatorum, pro libertate
et exaltatione sanctae Matris Ecclesiae, preces effundimus, misericors et benignus exaudi. Per eundum
Christum Dominum nostrum. Omnes: Amen.
Omnes: Sancte Michael Archangele, defende nos in proelio; contra nequitiam et insidias diaboli esto
praesidium. Imperet illi Deus, supplices deprecamur: tuque, Princeps militiae Caelestis, satanam aliosque
spiritus malignos, qui ad perditionem animarum pervagantur in mundo, divina virtute in infernum
detrude. Amen.
Sacerdos: Cor Jesu sacratissimum.
Omnes: Miserere nobis.
Sacerdos: Cor Jesu sacratissimum.
Omnes: Miserere nobis.
Sacerdos: Cor Jesu sacratissimum.
Omnes: Miserere nobis.
*Sacerdos= Imam
Omnes= semua (Umat)
POLA PIKIR MASYARAKAT MAJEMUK
POLA PIKIR MASYARAKAT MAJEMUK
Pola pikir merupakan unsur utama dalam sistem kemasyarakatan yang memiliki budaya yang cukup berkembang dengan baik, setiap orang mempunyai anggapan atau pendapat yang berbeda dengan orang lain mengenai suatu hal. Namun dari pola pikir inilah kebudayaan suatu masyarakat dibentuk dan berkembang. Pada prinsipnya dalam masyarakat majemuk cenderung mempunyai pola pikir yang relative sama, terlebih di daerah perkotaan, memiliki motivasi hanya untuk diri sendiri (ego), dan kurang memperhatikan orang lain, lalu sikap merekapun cenderung menanggapi segala sesuatu dengan kritis tanpa adanya proses berpikir matang-matang.
Berbeda dengan orang yang ada di daerah pedesaan. Mereka cenderung bergotong royong, dan kekeluargaan, berbeda dengan orang kota, orang di desa lebih memiliki motivasi untuk kebersamaan, dan senang membantu orang lain. Mereka pula lebih cenderung menanggapi berbagai persoalan dengan tenang dan menyelesaikan permasalahan dengan jalan kekeluargaan, mereka akan senantiasa mencari Medio tutissimus ibis {jalan tengah yang terbaik}.
Orang yang sudah memiliki pola pikir yang terlanjur kaku akan senantiasa mudah terprofikasi, namun hal itu dapat diminimalisir dengan mengubah pola pikir yang lebih terbuka dengan situasi dan kondisi real yang ada dalam masyarakat. Pola pikir yang cenderung terprofokasi sering ditemui di daerah kota ketimbang desa, hal itu terlihat jelas bahwa dalam kehidupan politik banyak orang yang terprofokasi dan yang bertindak sebagai profokator.
Kemajemukan masyarakat mengakibatkan Disharmonis SARA yang mengakibatkan pecahnya rasa persatuan dan kesatuan. Suku melawan suku, agama melawan agama dan lebih parah lagi bahwa Homo homini lupus (manusia adalah serigala untuk manusia lain [Thomas Hobbes]) sungguh suatu hal yang sangat menakutkan untuk dibayangkan.
PIKIRAN FUNDAMENTAL dan RADIKALISME
PIKIRAN FUNDAMENTAL dan RADIKALISME
Oleh: Anta Ramadhan
Fundamental dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) memiliki arti pokok atau mendasar. Fundamentalisme adalah
suatu paham untuk memperjuangkan sesuatu dengan cara cenderung radikal
atau keras.
Kecenderungan ini akan senantiasa
muncul ketika seseorang mendukung atau menjalankan suatu paham yang dianggapnya
benar, seperti halnya pada agama, pandangan politik dan sistem pemerintahan.
Kita akan membahas dari perspektif theologi atau agama. Dalam bidang agama
fundamental sering sekali berhubungan dengan pengakuan iman (credo), kitab Suci
dan ajaran yang membentuk agama itu sendiri. Pada dasarnya setiap orang yang
memeluk agama akan mengatakan bahwa agamanyalah yang paling baik dan benar, dan
cenderung menganggap bahwa agama lain “salah” sehingga menimbulkan kesan
pembedaan agama yang bersifat etnosentris yang dapat mengarah kepada
sifat fasisme yaitu otoriter.
Dalam kehidupan beragama paham
fundamentalisme akan senantiasa dijalankan oleh kebanyakan orang yang fanatik.
Orang yang memiliki padangan Fanatik ini secara tidak langsung (dan tanpa
disadari) akan memiliki sifat etnosentris, dan cenderung radikal untuk mempertahankan
apa yang dipahaminya. Orang yang semacam ini akan sangat mudah untuk diprofokasi,
dan akan sangat mudah tersulut isu SARA. Bandingkan dengan artikel “pola pikir
masyarakat Majemuk” rata-rata orang yang memiliki pandangan fanatik yang
ekstrem akan senantiasa terprofokasi terutama dalam isu SARA.
Radikalisme adalah sikap egois yang
dilakukan oleh seseorang atau kelompok untuk mempertahankan paham yang di anut,
bukan saja pada hal agama, tetapi juga dalam bidang politik dan sistem
pemerintahan (KBBI). Sifat ini dapat dihilangkan dengan banyak cara, namun yang
paling utama adalah menyingkirkan sikap egois dalam toleransi, dan lebih bersikap
tenang dalam menghadapi setiap isu yang beredar. Fundamentalisme dalam
kehidupan sehari-hari memang tidak dapat dihindarkan namun sifat radikal dari
fundamentalis tersebut dapat dihilangkan dengan cara di atas.
Namun ada kalanya sikap
fundamentalisme itu akan berdampak positif terutama dalam sistem idiologi
negara, misalkan idiologi Pancasilais, adalah dasar negara kita sehingga sikap
fundamentalisme itu akan sangat bermanfaat terutama dalam mendukung paham
Pancasilais dan memupuk rasa nasionalisme yang semakin mendalam, dimana ketika
dasar negara kita di “Hujat” oleh orang lain, kita bereaksi keras untuk mendukung
hal itu, tapi tetap fundamentalisme memiliki sifat negatif juga seperti yang
sudah dijabarkan di atas.
Marilah kita sikapi segala sesuatu
dengan bijak dan penuh kehati-hatian, bersabar dalam menghadapi berbagai
polemik, dan menerima segala sesuatu dengan lapang dada, dan tidak menggunakan
kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
Golden Ways:
“Kekerasan bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah, kekerasan hanya
menambah parah masalah yang ada. Kebijaksanaan adalah jalan menuju perdamaian,
selesaikanlah masalah dengan kepala dingin tanpa emosi serta egois yang tinggi.”
Langganan:
Postingan (Atom)