Translate

Jumat, 29 Mei 2015

Pandangan Agama samawi mengenai akhir zaman

Catatan Singkat: Pandangan Agama samawi mengenai akhir zaman.
1. Islam: 
  • "Sesungguhnya Hari Kiamat itu pasti akan datang tanpa ada keraguan sedikit pun.” (QS. Ghafir: 59). 
  • “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 159)” 
  • Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Al-Araf : 187).
2. Kristen: 
  • "Kamu akan mendengar perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah, jangan kamu gelisah, sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat." Matius 24:6. 
  • Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut." Lukas 21:25.
  • Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri." Matius 24:36 
3. Yahudi: 
  • “Sebab telah dekat hari TUHAN menimpa segala bangsa” (Obaja 1:15); 
  • “Sudah dekat hari TUHAN yang hebat itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali!” (Zefanya 1:14); 
  • Dan dipulihnya pemerintahan Mesianik didunia.

Senin, 29 Desember 2014

MENGENAL RITUS TRIDENTINA (BAGIAN II)

MENGENAL RITUS TRIDENTINA
(BAGIAN II)
MISA KETEKUMENAT
            Misa katekumenat adalah salah satu bagian utama dalam rangka Misa Tridentina, mengapa disebut Misa Katekumenat, karena pada bagian misa ini para katekumen masih diperbolehkan mengikuti misa, hingga usai Credo. Setelah Misa katekumenat dilanjutkan dengan misa orang beriman, maksudnya ialah bahwa yang dapat mengikuti bagian kedua misa ini adalah mereka yang telah dinyatakan beriman, yaitu telah dibaptis dan menerima komuni pertama. Sedangkan para ketekumen pergi meninggalkan tempat misa. Bandingkan juga dengan Liturgi Ilahi St. Yohanes Krisostomus dalam ritus Timur, setelah Khotbah, diakon mengangkat litani, “Marilah dalam damai, kita berdoa kepada Allah, untuk para katekumen…” setelah litani katekumenat ini, diakon berkata, “… Tinggalkanlah, tinggalkanlah tempat ini para katekumen, hendaknya tidak ada lagi katekumen berada di tempat ini.”
1. Ketika imam sudah berada di kaki altar, imam mengatupkan tangannya di dada, dengan jempol kanan berada di atas jempol kiri.[1] Dengan kepala yang terbuka, bersama [para] peyalan altar, dengan suara yang jelas membuat tanda salib:
             In nómine Patris, et Fílii, et Spíritus Sancti. Amen.
Setiap kali imam membuat tanda salib pada dirinya sendiri, tangan kiri menebah dada. Dan ketika imam membuat berkat di atas altar, tangan kiri menyentuh altar. Sebagai catatan, mulai dari permulaan misa, hingga sebelum konsekrasi, hendaknya tangan tidak menyentuh korporal.
2. Dengan tangan terkatup imam melanjutkan:
Introíbo ad altáre Dei.
Pelayan altar menjawab:
Ad Deum qui lætíficat iuventútem meam.
Imam, bersama pelayan altar mendaraskan Mazmur 42 bergantian, dan pada kata Gloria Patri, et Filio… imam dan pelayan altar mebungkuk. Mazmur ini tidak pernah dihilangkan, kecuali pada misa arwah, Minggu Sengsara (Prapaskah 5) hingga kamis putih. Tapi antiphon pembuka intoribo ad altare Dei…, tetap diucapkan, dan langsung menyusul Adiutorium nostrum in nomine… Dan selebihnya sama, kecuali diatur lain.
V          Iúdica me, Deus, et discérne causam meam de gente non sancta: ab hómine iníquo, et dolóso érue me.
R          Quia tu es, Deus, fortitúdo mea: quare me repulísti, et quare tristis incédo, dum afflígit me inimícus?
V          Emítte lucem tuam, et veritátem tuam: ipsa me deduxérunt, et aduxérunt in montem sanctum tuum, et in tabernácula tua.
R          Et introíbo ad altáre Dei: ad Deum qui lætíficat iuventútem meam.
V          Confitébor tibi in cíthara, Deus, Deus meus: quare tristis es, ánima mea, et quare contúrbas me?
R          Spera in Deo, quóniam adhuc confitébor illi: salutáre vultus mei, et Deus meus.
V          Glória Patri, et Fílio, et Spirítui Sancto.
R          Sicut erat in princípio et nunc, et semper, et in sæcula sæculórum. Amen.
V          Introíbo ad altáre Dei.
R          Ad Deum qui lætíficat iuventútem meam.
3. Sesudah antiphon Introíbo ad altáre Dei. Imam membuat tanda salib, demikian juga pelayan altar:
V          Adiutorium nostrum in nomine Domini.
R          Qui fecit cælum et terram.
Pertama, imam membungkuk dan mengucapkan Confiteor, pada kata mea culpa, imam menebah dada tiga kali:
Confíteor Deo omnipoténti, beátæ Maríæ semper Vírgini, beáto Michaéli Archángelo, beáto Ioanni Baptístæ, sanctis Apóstolis Petro et Paulo, ómnibus Sanctis, et vobis, fratres: quia peccávi nimis cogitatióne, verbo et ópere: (percutit sibi pectus ter, dicens) mea culpa, mea culpa, mea máxima culpa. Ideo precor beátam Maríam semper Vírginem, beátum Michaélem Archángelum, beátum Ioánnem Baptístam, sanctos Apóstolos Petrum et Paulum, omnes Sanctos, et vos, fratres, oráre pro me ad Dóminum Deum nostrum.
Pelayan altar, mencondongkan diri ke arah imam, dan berkata:
Misereátur tui omnípotens Deus, et dimíssis peccátis tuis, perdúcat te ad vitam ætérnam.
Imam berdiri tegak kembali sambil berkata:
Amen.
4. Setelah itu, pelayan altar membungkuk, dan membuat hal yang sama dengan imam:
Confíteor Deo omnipoténti, beátæ Maríæ semper Vírgini, beáto Michaéli Archángelo, beáto Ioanni Baptístæ, sanctis Apóstolis Petro et Paulo, ómnibus Sanctis, et tibi, pater: quia peccávi nimis cogitatióne, verbo et ópere: (percutit sibi pectus ter, dicens) mea culpa, mea culpa, mea máxima culpa. Ideo precor beátam Maríam semper Vírginem, beátum Michaélem Archángelum, beátum Ioánnem Baptístam, sanctos Apóstolos Petrum et Paulum, omnes Sanctos, et tibi, pater, oráre pro me ad Dóminum Deum nostrum.
Imam menjawab:
Misereátur vestri omnípotens Deus, et dimíssis peccátis vestris, perdúcat vos ad vitam ætérnam.
Pelayan altar tegak kembali sambil berkata:
            Amen.
5. Imam membuat tanda salib, demikian juga pelayan altar:
Indulgentiam, absolutionnem, et remissionem peccatorum nostrorum, tribuat nobis omnipotens et misericors Dominus.
Pelayan altar menjawab:
Amen.
6. Imam menundukkan kepala melanjutkan:
V          Deus, tu conversus vivificabis nos.
R          Et plebs tea lætabitur in te.
V          Ostende nobis, Domine, misericordiam tuam.
R          Et salutare tuum da nobis.
V          Domine, exaudi orationem meam.
R          Et clamor meus ad te veniat.
V          Dominus vobiscum.
R          Et cum spiritu tuo.
Imam membuka dan mengatupkan kembali tangannya:
V          Oremus.
7. Imam naik kealtar sambil berdoa:
Aufer a nobis, quæsumus, Domine, iniquitates nostras: ut ad Sancta sanctorum puris mereamur mentibus introire. Per Christum Dominum nostrum. Amen.
Imam membungkuk di depan altar, dengan tangan terkatup menyentuh altar[2], menciumnya sambil berdoa:
Orámus te, Dómine, per mérita Sanctórum tuórum, (Osculatur Altare in medio) quorum relíquiæ hic sunt, et ómnium Sanctórum: ut indulgére dignéris ómnia peccáta mea. Amen.
Pada kata quorum relíquiæ hic sunt, imam mencium altar. Pada kata et ómnium Sanctórum: ut indulgére dignéris ómnia peccáta mea. Amen. Imam berdiri tegak dan pergi ke sisi Epistola untuk membaca introitus.
8. Jika Altar akan didupai pelayan altar mendekati imam dengan membawa dupa dan turibulum imam memberkati dupa:[3]
Ab illo benedicáris , in cuius honore cremáberis. Amen.
Untuk mendupai altar lihat lampiran.
Setelah imam mendupai altar, imam memberikan pendupaan kepada pelayan altar, dan imam kemudian dari kaki altar, sisi Epistola; didupai oleh pelayan altar. Pada misa arwah altar tidak didupai sebelum introitus tapi hanya pada persembahan saja (offertorium).
I.                   INTROITUS, KYRIE, GLORIA
1.  Imam, setelah mengucapkan Aufer a nobis, Orate Domine, dst, pergi ke sisi Epistola, dan sambil membuat tanda salib pada dirinya sendiri – dalam misa arwah, imam membuat tanda salib di atas Missale –, imam membaca bagian introitus, ketika mengucapkan Gloria Patri, et Filii, et Spiritui Sancto, …¸ imam menundukkan kepala ke arah tabernakel (atau salib), dan mengulang bagian awal dari introitus sebelum mazmur, tanpa membuat tanda salib.
2. Setelah imam membaca introitus, imam dengan tangan terkatup di dada, kembali ke tengah altar, dan bersama dengan pelayan altar mengucapkan kyrie bergantian.
V          Kýrie, eléison.
R          Kýrie, eléison.
V          Kýrie, eléison.
R          Christe, eléison.
V          Christe, eléison.
R          Christe, eléison.
V          Kýrie, eléison.
R          Kýrie, eléison.
V          Kýrie, eléison.
3. Setelah imam mengucapkan Kyirie, imam membuka tangannya hingga batas bahu, dan mengatupkannya kembali, dengan suara yang jelas imam berkata: Gloria in excelsis Deo. Ketika imam mengucapkan Deo imam mengatupkan tangan, dan menundukkan kepala ke arah salib. Dengan berdiri tegak, dan tangan terkatup imam melanjutkan madah kemuliaan.
            Pada kata adoramus te, Gratias agimus tibi, Iesu, suscipe deprecationem nostram imam menundukkan kepala. Pada kata cum sancto spiritu imam membuat tanda salib.
Glória in excélsis Deo. Et in terra pax homínibus bonæ voluntátis. Laudámus te. Benedícimus te. Adorámus te. Glorificámus te. Grátias ágimus tibi propter magnam glóriam tuam. Dómine Deus, Rex coeléstis, Deus Pater omnípotens. Dómine Fili unigénite, Iesu Christe. Dómine Deus, Agnus Dei, Fílius Patris. Qui tollis peccáta mundi, miserére nobis. Qui tollis peccáta mundi, súscipe deprecatiónem nostram. Qui sedes ad déxteram Patris, miserére nobis. Quóniam tu solus Sanctus. Tu solus Dóminus. Tu solus Altíssimus, Iesu Christe. Cum Sancto Spíritu in glória Dei Patris. Amen.
Madah Gloria tidak diucapkan pada: Misa arwah, masa advent, dan Prapaskah. Madah Gloria juga hanya dibacakan jika ada petunjuk khusus bahwa Gloria in excelsis Deo harus dibawakan.
II.                COLLECTA DAN EPISTOLA
1. Setelah imam membawakan Gloria in excelsis Deo, imam mencium altar, mengahadap umat[4], membuka tangan dan mengatupkannya kembali sambil berkata:
            Dominus vobiscum.
Pelayan altar menjawab:
Et cum spiritu tuo.
Imam pergi ke sisi Epistola, membuka tangan dan mengatupkannya kembali dan berkata sambil menundukan kepala ke arah salib:
            Oremus.[5]
Dengan tangan terentang sebatas bahu, imam membacakan doa collecta. Pada kata per Dominum nostrum, imam mengatupkan tangan, dan pada kata Iesu menundukan kepala ke arah salib, dan meneruskan doa dengan tangan terkatup. Pada akhir doa pelayan altar menjawab.
            Amen.
Namun jika doa diakhiri dengan kata qui tecum atau  qui vivis, imam mengatupkan tangan pada kata unitate.
(Per Dominum nostrum, Iesum Chrisutum, Filium tuum, qui tecum vivit et regnat, in unitate Spiritus Sancti Deus, per omnia sæcula sæculorum.
Qui tecum vivit et regnat in unitate Spiritus Sancti Deus, per omnia sæcula sæculorum.
Qui vivis et regnas cum Deo Patre in unitate Spiritus Sancti Deus, per omnia sæcula sæculorum.)
Jika ada misa votif dalam masa tertentu, maka doa misa tersebut dibacakan setelah doa pada hari yang sangkutan dengan diawali dengan kata oremus oleh imam. Selebihnya sama.
2. Imam membaca bacaan misa. Dengan kedua tangan menyentuh pinggir Missale, dan pada Mazmur (graduale, alleluia, tractus) imam memegang (atau menyentuh) bagian bawah Missale, atau jika lebih suka, imam dapat menyentuh altar.
Ketika imam merubah posisi tangan pada Missale, pelayan altar menjawab:
            Deo gratias.
3. Setelah imam membaca bacaan misa, graduale dan Alleluia atau tractus, imam pergi tengah altar, membungkuk dengan tangan terkatup, tanpa menyentuh altar berdoa:
Munda cor meum ac labia mea, omnípotens Deus, qui labia Isaíæ Prophétæ cálculo mundásti igníto: ita me tua grata miseratióne dignáre mundáre, ut sanctum Evangélium tuum digne váleam nuntiáre. Per Christum, Dóminum nostrum. Amen.
Imam melanjutkan:
Iube, domne, benedicere. Dóminus sit in corde meo et in lábiis meo: ut digne et competénter annúntiem Evangélium suum. Amen.
Doa ini tidak diucapkan pada misa arwah.
Ketika imam berada di tengah altar untuk berdoa sebelum Injil, pelayan altar memindahkan Missale dari kanan Altar ke kiri altar. Setiap kali pelayan altar melewati bagian tengah kaki altar, hendaknya berlutut. Dan jika melewati imam, membungkuk atau menundukkan kepala.
1. Imam pergi ke sisi Injil, dan berkata:
            Dóminus vobíscum.
Pelayan altar menjawab:
Et cum spíritu tuo.
Imam melanjutkan:
Sequéntia (initium) sancti Evangélii secúndum NN.
Ketika imam berkata Sequéntia atau initium imam membuat tanda salib pada bagian bacaan Injil pada Missale. Pada kata sancti imam membuat tanda salib kecil di dahi. Pada kata Evangélii secúndum membuat tanda salib kecil di mulut, dan ketika imam menyebutkan nama Penulis Injil, imam membuat tanda salib kecil di dada.
Pelayan altar menjawab:
Glória tibi, Dómine.
Imam membacakan Injil dengan tangan terkatup. Pada akhir bacaan, pelayan altar berkata:
            Laus tibi, Chrite.
Imam mencium Missale pada bagian bacaan Injil sambil berkata dalam hati:
Per evangélica dicta, deleántur nostra delícta.
2. Imam, jika hendak menyampai homili, melepaskan manipel dari tangan kirinya, menciumnya, dan meletakkan di altar, di atas Missale. Imam turun ke kaki altar, berlutut dan menuju mimbar atau tempat lain yang cocok untuk menyampaikan homili.[6]
3. Setelah Homili, imam kembali ke tengah altar, dengan berlutut sebelumnya di kaki altar. Dan mengenakan manipel.
            Pada hari Minggu atau Hari Raya biasa diucapkan Credo. Imam membuka tangan sebatas bahu dan mengatupkanya kembali. Sambil berkata:
Credo in unum Deum.
Pada kata Credo in unum, imam membuka tangan dan mengatupkannya kembali. Pada kata Deum imam menundukkan kepala.[7] Dengan tangan terkatup imam melanjutkan Credo. Pada kata Et incarnátus est de Spíritu Sancto ex María Vírgine: Et homo factus est. Imam berlutu dengan kedua tangan berada di atas altar. Dan pada kata Crucifíxus étiam imam bangkit berdiri dan melanjutkan hingga akhir dengan tangan terkatup.
            Pada kata Iesum, adoratur, imam menundukkan kepala. Pada kata et vitam membuat tanda salib.
Credo in unum Deum. Patrem omnipoténtem, factórem cæli et terræ, visibílium ómnium et invisibílium. Et in unum Dóminum Iesum Christum, Fílium Dei unigénitum. Et ex Patre natum ante ómnia sæcula. Deum de Deo, lumen de lúmine, Deum verum de Deo vero. Génitum, non factum, consubstantiálem Patri: per quem ómnia facta sunt. Qui propter nos hómines et propter nostram salútem descéndit de cælis. [genuflexi] Et incarnátus est de Spíritu Sancto ex María Vírgine: Et homo factus est. [stantes] Crucifíxus étiam pro nobis: sub Póntio Piláto passus, et sepúltus est. Et resurréxit tértia die, secúndum Scriptúras. Et ascéndit in cælum: sedet ad déxteram Patris. Et íterum ventúrus est cum glória iudicáre vivos et mórtuos: cuius regni non erit finis. Et in Spíritum Sanctum, Dóminum et vivificántem: qui ex Patre, Filióque procédit. Qui cum Patre, et Fílio simul adorátur, et conglorifícatur: qui locútus est per Prophétas. Et unam, sanctam, cathólicam et apostólicam Ecclésiam. Confíteor unum baptísma in remissiónem peccatorum. Et expecto resurrectionem mortuorum. Et vitam ventúri sæculi. Amen.[8]
Jika Credo tidak dibawakan, maka imam langsung melanjutkan kepada offertorium.
Kita lanjutkan dengan bagian III, dari Offertorium hingga Canon. J



[1] Setiap saat, ketika imam mengatupkan tangan dalam posisi ini, kecuali setelah konsekrasi hingga selesai komuni umat.
[2] Ketika imam menyentuh altar, pastikan untuk tidak menyentuh korporal. Tangan berada di atas kain korporal setelah konsekrasi hingga akhir komuni.
[3] Jika altar akan didupai, imam tidak beranjak dari tempat setelah doa oramus te domine, tapi langsung memberkati dupa.
[4] Setiap kali imam akan berbalik ke arah umat: setelah imam mencium altar, imam berputar ke arah kanan mengahadap umat, membuka dan mengatupkan tangan seraya berkata: Dominus vobis cum. Lalu di jawab oleh pelayan altar: et cum spiritu tuo.
Jika imam akan membawakan doa collecta: imam memutar tubuhnya ke arah kiri dan langsung pergi menuju sisi epistola.
Pada Offertorium: imam memutar tubuhnya ke arah kiri, dan dari tengah altar imam berkata, oremus.
Pada bagian Orate fratres sebelum doa secreta: imam memutar tubuhnya ke arah kanan, berbalik ke pada pelayan altar dan berkata: Orate fratres. Setelah itu imam langsung berbalik ke arah altar, memutar tubuhnya ke kanan sambil melanjutkan: ut meum ac vestrum sacrificium acceptabile fiat apud Deum Patrem omnipotentem. Ketika imam sudah menghadap alta, pelayan altar dengan membungkuk menjawab: Suscipiat Dominus sacrificium de minibus tuis ad laudem et gloriam nominis sui, ad utilitatem quoque nostrum, totiusque ecclesia suæ sanctæ.
Pada doa postcommunio sama seperti dalam doa collecta.
[5] Tentang sikap ketika mengucapkan oremus, secara umum adalah: imam membuka dan mengatupkan kembali tanganya. Ketika mengucapkan oremus imam menundukkan kepala.
[6] Sekedar catatan. Ada kebiasaan, bahwa imam atau orang lain yang menyampaikan homili, membacakan terlebih dahulu bacaan-bacaan (epistola dan Injil) dalam bahasa setempat. Pada bacaan epistola pelayan dan umum duduk, dan pada bagian bacaan Injil pelayan dan umat berdiri. Setelah pembacaan Alkitab selesai, imam menyapa umat dengan salam singkat, dan membuat tanda salib. Dan pada akhir homili pun membuat tanda salib.
[7] Setiap kali imam membuka tangan dan mengatupkannya kembali, pada Gloria in excelsis Deo, dan Credo, imam memandang salib sesaat dan menundukkan kepala.
[8] Setiap kali mengucapkan kata Iesu dan Maria, imam menundukkan kepala.

Senin, 13 Oktober 2014

MENGENAL RITUS TRIDENTINA BAGIAN 1


MENGENAL RITUS TRIDENTINA

(BAGIAN I)

LATAR BELAKANG

            Ritus Tridentina adalah salah satu ritus dalam tradisi gereja Katolik Roma. Nama Tridentina diambil langsung dari nama Konsili tahun 1545-63 yang memuat ajaran tentang Misa Kudus, yaitu Konsili Trente.

            Sudah sejak lama, gereja Universal berusaha untuk mendefinitifkan bentuk Misa selama berabad-abad. Namun inti dari Misa adalah menghadirkan kembali kenangan Salib akan penebusan umat manusia, melalui ketaatan Yesus sang Anak Domba Paskah kepada Bapa-Nya. Konsili Trente secara khusus membicarakan semacam “Apologetik” tentang kurban Misa. Gereja mengambil sikap yang cukup hati-hati dalam mengambil keputusan dan mendefinitifkan ajaran tentang Misa itu sendiri.

            Sejak reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther tahun 1556, oleh Yohanes Calvin, dan yang lebih awal, dari kerajaan Inggris, Raja Henry VIII Tudor. Mengakibatkan berubahnya ajaran tentang Misa sebagai kenangan akan kurban salib Kristus. Para reformis menganggap, kurban yang menghadirkan kembali Salib Kristus, adalah suatu penghinaan kepada Kristus Sang Tersalib. Mengapa? Karena para reformis dengan pemahaman baru mereka, mengatakan bahwa misa seharusnya hanya boleh sebagai lambang, bukan sebagai sarana hadirnya Yesus. Mereka menganggap bahwa kalangan Klerikal telah mengalihkan inti misa, dari Kristus yang tersalib kepada kurban salib. Kristus hanya mati sekali untuk selamanya, sehingga Ia tidak perlu untuk kembali mengurbankan Diri lagi di atas meja Altar.

            Tuduhan kaum reformis, bahwa misa telah melecehkan misteri kurban sekali selamanya itu. Namun dalam konsili inilah, ajaran tentang kurban Misa ditegaskan. Bahwa Misa bukan untuk menggantikan kurban Kristus yang sekali untuk selama-lamanya, tetapi sebagai tanda persekutuan dengan Yesus dalam Tubuh dan Darah-Nya. Perbedaan pemahaman ini berlanjut, hingga akhirnya konsili Trente dengan tegas menyatakan bahwa Misa harus dirayakan dalam bahasa Latin. Terjemahan dalam bentuk apapun adalah pelanggaran yang berat. Alasannya adalah untuk meminimalisir segala bentuk penyimpangan, bagi gereja, penyimpangan dalam Liturgi tidak dapat ditolerir dalam bentuk apa pun.

            Maka menurut norma umum dari ritus Tridentina adalah penggunakan bahasa Latin dalam perayaannya. Keadaan ini terus berlanjut hingga pra-Konsili Vatikan II tahun 1962. Paus Yohanes XXIII memberikan keringanan untuk menggunakan bahasa pribumi dalam misa, dengan tetap memperhatikan norma-norma yang ada.

            Misa dirayakan dengan cara yang khas, dimana Imam selebran merayakan misa menghadap tabernakel, atau ad orientem dimana altar dibangun melekat dengan dinding, dan menghadap ke arah timur.

            Letak altar dan panti umat cukup jauh, dan ada semacam pagar yang membatasi tempat umat dan imam berada, biasa disebut altar reil. Liturgi dilaksanakan dengan cara yang ketat. Dimana imam harus memperhatikan segala aspek yang ada. Mulai dari pakaian, dekorasi altar, cara berjalan, cara mengatupkan tangan, cara membuka tangan, cara berlutut, semuanya diperhatikan dengan saksama.

            Misa Tridentina tidak seperti misa Paulus VI (atau Novus Ordo). Apa yang membedakannya? Selain dari bentuk altar dan beberapa ritus, misa Tridentina dibagi menjadi dua bagian, yaitu Misa Katekumenat, mulai dari perarakan masuk hingga Homili (syahadat), dan Misa Orang Beriman, Mulai dari antifon persembahan (offertorium) hingga bacaan Injil terakhir.

            Apa yang dimaksud dengan misa Katekumenat? Bagian ini adalah bagian awal (intiationem) atau pengenalan. Bagian puncak adalah Homili yang bagi para katekumen, adalah suatu pelajaran agama. Setelah homili, para katekumen dibubarkan. (walau dalam ritus latin pemburan ini tidak secara explisit terlihat dibandingkan dengan ritus timur, bdk. Liturgi Ilahi St. Yohanes Krisostomus, litani katekumen dan pada bagian departed).

            Misa Orang Beriman, merupakan bagian yang hanya diikuti oleh mereka yang sudah dibaptis, dan telah menerima komuni pertama. Lebih utama dalam keadaan rahmat atau bebas dari dosa berat.

            Pada bagian pertama ini, kita akan mengenal lebih dekat bagian-bagian dalam ritus Tridentina mulai dari ritus awal (aspersionem).

            ASPERSIONEM

            Pada misa hari Minggu dan hari raya, biasanya imam akan memerciki umat dengan air suci, pada masa diluar Paskah digunakan antifon Asperges me, dan dalam masa Paskah Vidi Aquam.

V : Aspérges me.

R: Dómine, hyssópo, et mundábor: lavábis me, et super nivem dealbábor. Miserére mei, Deus, secúndum magnam misericórdiam tuam. Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto. Sicut erat in principio et nunc et semper et in saecula saeculorum. Amen.

V : Vidi aquam.

R : Egrediéntem de templo, a látere dextro, allelúia: et omnes ad quos pervénit aqua ista salvi facti sunt et dicent: allelúia, allelúia. Ps. 117 (118), 1. Confitémini Dómino, quóniam bonus: quó-niam in sǽculum misericórdia eius. Glória Patri, et Fílio, et Spirítui Sancto. Sicut erat in princípio, et nunc, et semper, et in sæcula sæculórum. Amen.

            Setelah imam memerciki altar, pelayan altar dan umat dengan air suci, imam kembali ke tengah kaki altar dan berdoa:

V : Osténde nobis, Dómine, misericórdiam tuam. (T.P. Allelúja.) 

R : Et salutáre tuum da nobis. (T.P. Allelúja.) 

V : Dómine, exáudi orationem meam. 

R : Et clamor meus ad te véniat. 

V : Dóminus vobíscum. 

R : Et cum spíritu tuo. 

V : Orémus.  

Exáudi nos, Dómine sancte, Pater omnípotens, ætérne Deus: et mittere dignéris sanctum Angelum tuum de cœlis; qui custódiat, fóveat, prótegat, vísitet atque deféndat omnes habitántes in hoc habitáculo. Per Christum, Dóminum nostrum. 

R : Amen.

            Biasanya jika misa dimulai dengan ritus pemercikan, imam mengenakan cope atau pluviale. Jika demikian maka imam kemudian pergi ke tempat dimana terletak kasula dan manipel, disana ia akan mengenakan manipel di tangan kiri dan juga kasula.